“Orang-orang dengan kesedihan mendalam menunjukkan diri mereka (benar-benar ada) saat bahagia.” Demikian diungkapkan Friedrich Nietzsche, filsuf asal Jerman.
Bahwa, orang-orang dengan pende-ritaan tingkat tinggi memiliki cara untuk menangkap kebahagiaan seolah-olah mereka ingin menghancurkannya kembali karena sadar betul kebahagiaan itu akan lari jauh (lagi). Orang-orang macam itu tahu penuh, kebahagiaan bukanlah hal pasif, apalagi konstan. Sementara, penderitaan adalah mutlak sebagai punggung jalan untuk mengejar kebahagiaan yang terus lari dan hilang di tiap-tiap tikungan waktu.
Benarlah! Tingkat kebahagiaan yang dirasakan seseorang setimpal dengan penderitaan yang dilalui untuk mendapatkan sukacita itu. Pun sukacita yang menyelimut awak redaksi Soeket Teki seganjar dengan penempaan panjang yang berliku dalam penerbitan majalah di tangan pembaca ini.
Jalan yang redaksi tempuh tidak selengang jalan tetamanan di belakang rumah. Melainkan bebatuan cadas yang selalu hendak menggunting tapak kaki. Maka adalah sukacita yang paripurna setelah Majalah Sastra Soeket Teki Edisi 3 ini hadir menyumbang sepercik cahaya yang (semoga) melentera.
Ini adalah bukti bahwa awak redaksi Soeket Teki yang sedang “mencari bentuk berdiri” di bawah ketegaran Surat Kabar Mahasiswa (SKM) AMANAT berusaha membaur dengan kebudayaan. Kegairahan SKM AMANAT terhadap dunia sastra adalah bentuk penyaluran naluri membangun nurani e(ste)tik—etik dan estetik.
Karya ini lahir atas seleksi ketat setiap naskah yang masuk, baik dari kawanan punggawa SKM AMANAT maupun “relawan”. Dan, tetaplah Soeket Teki, bicara sastra dengan rasa.
Ramuan di dalamnya cukup matang dengan berbagai komposisi bumbu yang sepadan. Tampil dua naskah cerita pendek yang lahir dari proses kreatif para penulis. Sajak-sajak dan puisi mengajak hati menyu-sun irama denyut nadi dalam nada-nada seni. Movement Art atau Seni Pergerakan disajikan dalam Laporan Reportase Sastra kali ini. Juga ramuan-ramuan lain yang saling melengkapi.
Tak henti-henti Soeket Teki menden-dangkan doa agar semua tulisan yang hadir tak sekadar mempengaruhi rasa (haru) hati. Tapi juga memprakarsai tindak, mendasari lakon, dan memantapkan langkah untuk mengukir relief kehidupan yang berkisah tentang kedamaian dan cinta kasih. Iqra’! Redaksi
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
Judul : Dragon
Penulis : Cilve Clussler
Penerjemah : Arif Nugroho
Penerbit : Dastan Books
Tebal : 630 hlm
Cetakan : I, Januari 2009
Resensator :
Musyafak
Dennings’ Demons, pesawat pasukan sekutu yang hendak menjatuhkan bom di kepulauan Negara Jepang, jatuh memeluk dasar laut usai ditembak pesawat Mitsubishi A6M Zero. Itu ketegangan pertama yang hadir dalam novel Dragon karya Clive Clusser.
Novel petualangan itu diawali rencana pemboman tentara sekutu di beberapa bagian wilayah Jepang. Sebuah perseteruan politik perang menjelang berakhirnya Perang Dunia II pada Agustus 1945.
Divine Star, kapal kargo yang mengangkut mobil ekspor tenggelam di pusaran Laut Pasifik. Awak kapal Narvik yang melintas di bawah komando kapten Arne Korvold berusaha mengevakuasi Divine Star guna mendapatkan klaim penyelamatan. Sebuah peruntungan harta yang cukup berlimpah bagi awak kapal jika berhasil memastikan klaim penyelamatan atas kapal itu. Tapi lacur, saat beberapa awak kapal Narvik mengevakuasi Divine Star, kapal pengangkut mobil-mobil mewah itu meledak.
Big John, kendaraan penambang laut berbentuk kapal selam dilengkapi sekop dan pencengkeram, mengalami kepayahan oleh ledakan di dekat permukaan laut itu. Lembah-lembah di dasar laut terguncang hingga menggugurkan bebatuan. Kapal selam yang berfungsi mengambil sampel geologikal dasar laut itu tertimpa gugguran bebatuan hingga mustahil bergerak. Belum lagi salah satu mesin kapal selam malfungsi.
Dirk Pitt, Direktur Khusus Proyek Khusus di NUMA (The National Underwater and Marine Agency—Dinas Bawah Laut dan Kelautan Nasional) Amerika serikat, hampir kewalahan mengemudi Big John. Sementara Plunkett terus mengutuki ajal yang kian mendekat. Berbeda dengan Pitt, pribadi tangguh yang tidak gampang me-nyerah. Pitt menolak kata “kematian” sekaligus cengkeram bahaya kata itu dirasakan begitu dekat. Petualang Pitt puluhan kali “mendekati ajal” ketika mengarungi dasar laut, tapi kelincahannya mengemudi kapal selam membuatnya selamat. Pitt banyak dikagumi oleh kehebatannya menghindari ajal di saat-saat sulit di dasar laut.
Dinding Big John berlubang akibat desakan benda dari luar. Perlahan-lahan air masuk ke ruang generator kapal. Pitt tak bisa menampik rasa panik yang terus datang menghantui. Gemiricik air terdengar bagai iring-iringan malaikat penjemput nyawa. Dengan sebuah pipa, Pitt mampu menutup lubang itu. Tapi hanya untuk sementara waktu. Tekanan air laut lebih besar, dan lubang dengan tetap melebar.
Pelan-pelan Big John terangkat dari kedalaman 5200 di dasar laut menuju permukaan. Ketika kapal selam penambang ini melayang-melayang dengan keseimbangan yang tak tentu, air makin deras menyesaki ruangan generator. Sebentar saja, air memuncak hampir menyentuh turbin generator. Jika air menenggelamkan turbin, tamatlah mereka. Karena turbin itulah penghasil tenaga penggerak Big John.
Pitt dan Plunkett pasrah pada ketidakberdayaan ketika Big John terjun menuju dasar laut. Ketika mereka hendak keluar kapal dan berkeputusan berenang dari kedaalam laut yang tak terukur menuju permukaan, Al Giordino muncul membawa penyelamatan yang tepat waktu. Pitt merasai keajaiban penyelamatan Al Giordino tetap menggembalakan nyawanya.
Pasca ledakan di Laut Pasifik itu, dunia Barat ribut-ribut soal nuklir yang mengancam. Meledaknya Divine Star adalah bukti awal Jepang tengah berupaya menggunakan nuklir untuk mengancam kedaulatan Amerika Serikat. Hulu ledak nuklir dipasang di beberapa mobil ekspor yang diangkut kapal menuju Eropa dan Amerika itu. Diketahui penyelundupan nuklir itu adalah Proyek Kaiten yang dijalankan oleh pebisnis besar Jepang. Hideki Suma menjadi otak segala sesuatu berkaitan dengan nuklir dan penanaman modal asing di Amerika.
Bersamaan itu perang finansial hampir mendesak Amerika pada situasi krisis. Kurun waktu 1993 situasi ekonomi Amerika Serikat dikuasai Jepang. Para pengusaha Jepang mempunyai investasi lebih dari separuh besaran modal yang ada. Para Anggota parlemen di gedung oval bahkan khawatir harus “menjual” negaranya kepada Jepang. Hideki Suma, pengusaha besar Jepang yang mempunyai pengaruh ekonomi terbesar di Amerika dirasa sebagai ancaman nomor wahid.
Sejatinya pemerintah Jepang tidak mendalangi Proyek Kaiten. Kecuali, orang-orang macam Suma yang mempunyai kepentingan pribadi di belakang kepenti-ngan pemerintah Jepang. Suma mendirikan instalasi pengembangan nuklir tanpa sepengetahuan pemerintah. Hingga seolah-olah, Proyek Kaiten adalah agenda besar Jepang untuk meruntuhkan Amerika dan Eropa. Karena pemerintah Jepang pada mutlaknya tidak dijalankan oleh politisi. Tapi dikendalikan oleh penggerak usaha yang menggoyang di belakang birokrasi.
Masalah nuklir kemudian melebur dalam masalah baru, harta jarahan Perang Dunia II. Karena ternyata proyek itu dibiayai oleh besarnya harta rampasan yang dijarah selama Perang Dunia II senilai ratusan miliar dolar. Pemerintah resmi Jepang hampir ti-dak mendapat kontribusi “harta gelap” tersebut. Harta jarahan itu dikelola secara rapi oleh Koda Suma, ayah Hideki Suma, yang membentuk organisasi Gold Dragon. Gold Dragon dikuasai oleh militer bawah tanah Jepang seusai Perang Dunia II.
Ancaman Kaiten kembali menyeret Dirk Pitt pada petualangan dasar laut yang berbahaya. Pitt harus menelusuri jejak instalasi nuklir di bawah laut. Dragon Center, pusat organisasi nuklir yang dijalankan Gold Dragon, mutlak harus ditemukan.
Tanggal 9 November 1993, Pitt diumumkan hilang dan meninggal di sebuah kecelakaan di lepas pantai Jepang. NUMA, juga orang-orang teras Amerika merasa berhutang budi pada Pitt yang reputasinya luar biasa mengagumkan. Selama karirnya Pitt mendapat banyak penghargaan di darat maupun di laut. Lelaki penggemar koleksi mobil itu telah menemukan bangkai kapal Serapis dan harta karun La Daroda. Pitt juga menjadi inti pengangkatan bangkai kapal Titanic.
Siapapun telah mengira Pitt telah mati. Berharap lelaki yang tak mau menikah itu masih hidup, adalah kesemuan. Tapi siapa sangka Pitt mendarat selamat di Pulau Marcus, 1.125 kilometer sebelah tenggara Jepang.
Clive Clussler, penulis, mampu mendeskripsikan detail ceritanya. Clussler berhasil melukis setiap ketegangan dengan rangkaian kata-katanya. Alur Dragon sa-ngat laju dan paripurna dengan penyertaan tanggal dan tempat kejadian secara persis. Penulis seolah tidak menceritakan, tetapi menunjukkan lukisan detail pada setiap peristiwa yang menegangkan.
Dragon merupakan serangkaian novel petualangan Dirk Pitt. Di dalamnya, karakter Dirk Pitt konsisten. Tokoh utama itu selalu memiliki citarasa tinggi terhadap mobil—dalam Dragon koleksi yang disukai adalah mobil Stutz. Imaji Clussler tentang laut hampir tidak cacat, lantaran ia sendiri berpengalaman sebagai anggota NUMA yang berpetualang di dasar laut.
Namun, sayang, kesan bertele-tele tidak dapat ditampik. Pembaca akan menemui alur cerita yang sangat panjang—meski sambung menyambung. Ketebalan buku di atas 600 halaman membuat pembaca “menyerah” sebelum membaca.
Meski begitu, novel seri petualangan Dirk Pitt ini tak mengecewakan dibaca oleh penggemar fiksi petualangan. Konsistensi Clussler sebagai pengarang fiksi petualangan mendapat julukan sebagai The Grandmaster of Adventure.
Posted in Uncategorized | Tagged resensi | Leave a Comment »
pagi ini langkah meminta jatah
kuturuti…
ku tapakkan pada keramaian
saat mentari masih melaksanakan sholat subuh
angin memberitahu tentang bingar di sekeliling
dan bersama kabut pagi yang menipis
memperlihatkanku pada keramaian, pada hetero..
kehirukpikukan dengan berbagai tujuan
mimik-mimik berselancar di mataku
membentuk ensiklopedi tentang ragam manusia
mataku mengajak bibir tuk tersenyum
mungkin untuk manusia dan keadaan itu
selagi langkah masih mau tersaruk-saruk
tak peduli…
–Iin Aina,
Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris IAIN Walisongo
Posted in Uncategorized | Tagged Puisi | Leave a Comment »
wajah-wajah penuh cadas
merongrong dengan sisa nafas yang terkuras
geliat pagi kekeringan
di balik lipatan daun busuk
meliuk lambai dan hangat
tapi embun itu beku
peti mati teronggok
tergembok kata kecewa
lalu…
jika indera tidak untuk merasa
mungkin takkan ada rasa
biar sepi bercinta dalam sunyi
biar bising larut dan teriak
menanti saja pada potongan senja
kesadaran dipaksa terus terjaga
ada yang masih meringkuk di kolong langit
di dasar bumi yang keriput dan pikun
beralas desah susah yang terus meracau
mengacak-acak tatanan
aliran darah kian nian menghitam
terhempas di lorong jalan berdebu
pekat…
dan air mata yang luruh
tak lagi sebening raut pagi
kotor muak muntah
berkerak di sisi jiwa yang kemarau
sampai segenap mata yang telah melebar
sampai jemari yang terulur panjang
hanya sampai pada kematian rasa
lalu muncul tawa-tawa asing
mencemooh yang ceroboh
–Iin Aina,
Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris IAIN Walisongo
Posted in Puisi | Tagged p | Leave a Comment »
Sebuah bayang indah
Datang dalam kegelapan malam
Bersama remang-remang cahaya bintang keabadian
Yang telah menyatu dengan angan
Kutemukan tersenyum di depanku
Dengan membawa setangkai anggrek putih
Dari taman hati miliknya
Dia…
Pemberi setetes air saat dahaga
Penyejuk ketika panas membara
Pengobat setia di saat kuterluka
Kemudian, kuterbawa oleh deburan jantungnya
Oleh tiupan angin cinta bersamanya
Walau terkadang…
Kasih itu tumpah oleh amarah
Tercecer dalam gulungan ombak
Merapih dalam sunyi, lalu tenggelam lunglai
Atau tersesat meniti jalan berliku
Menyatu dengan tumpukan batu
Tapi kau dan aku pasti tahu
Itu bukan rintangan kelabu
Karena dia pasti kembali di bawah keagungan-Nya
Dalam cinta dan doa
Yang mengiringi langkah kebahagiaan kita
–Siti Nila Rokhmana
Kru Magang SKM AMANAT
Posted in Uncategorized | Tagged Puisi | Leave a Comment »
Kembang api meluncur bak roket merajai angin.
tak ada kata.
mata terpukau melumat keindahan yang melimpah.
tak ada kekasih mengecup bermabukkan asmara.
hanya lembabnya malam dan jeruji bui berbaris memasung raga.
tak peduli apakah bintang turun ke bumi malam ini atau tidak.
tak peduli bidadari sedang sibuk meminang pangeran langit malam ini dengan mahar kucing atau tidak.
tak peduli apakah jin aladin keluar dari lampu ajaib
tuk berikan tiga permintaan ajaib atau tidak.
yang aku ingin sesali adalah dosaku.
dosa karna telah mencuri ayam tetangga yang tak seberapa.
maka, ku pejamkan mataku.
ku pandang langit yang bertaburan gemerlap api yang menari.
dan, dengan sepenuh hati.
dan, dengan sepenuh jiwa.
dan dengan segala harapan yang termuarakan.
ku tengadahkan tangan, dan lirih ku ucapkan doa:
“tuhan, kelak jika telah habis masa hukumanku.
jangan biarkan aku menjadi pecuri kelas teri seperti ini
angkat derajatku, tuhan
dan jadikanlah aku ini wakil rakyat
karna hanya dengannya, kan dapat ku curi uang berkopor-kopor
dan jikapun, kau kirim aku ke bui ini lagi,
sungguh aku rela, tuhan
karna bagiku ini hanyalah perpindahan maqom (tempat)
ke hotel lain yang fasilitasnya tak jauh beda dengan apartemen mahal
maka, dengan setulus hati, ya mujib
kabulkanlah doa hambamu yang papa ini…..
amiiiiiin
–Siti Lestari,
Warga Kampoeng Sastra Soeket Teki Semarang
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
Oleh Siti Muslimah
Di jagad sastra Indonesia, nama Ahmad Tohari tak asing lagi. Salah satu sastrawan besar dengan ciri khas tersendiri yang selalu berkisah tentang kehidupan wong cilik. Karakter karya-karya dengan jelas diidentifikasi oleh khalayak sebagai “sastra desa”. Sastra Ahmad Tohari tak habis-habisnya mengisahkan kondisi sosial masyarakat desa yang terpinggirkan secara ekonomi maupun politik.
Membincang Ahmad Tohari, sulit dilepaskan dengan karya emasnya, novel Ronggeng Dukuh Paruk. Trilogi novel itu merupakan salah satu karya sastra Indonesia terpenting yang mengisahkan perubahan sosial-politik pada kurun waktu 1965-an. Di mana saat terjadi geger politik yang eskalasinya nasional dan melibatkan banyak korban, baik korban politik maupun korban kemanusiaan.
Namun yang terpenting di balik itu adalah penggambaran kondisi masya-rakat Dukuh Paruk yang bersahaja dalam kemiskinan. Tak bisa dinafikan, deskripsi tentang tata kehidupan warga Dukuh Paruk mewakili latar sosial yang menggejala saat itu. Dukuh Paruk adalah bagian terkecil dari gambaran kemiskinan masyarakat Indonesia yang hidup di pedesaan. Dan, Ahmad Tohari dengan gamblang menyingkap tabir ironi di negeri yang subur ini. Ronggeng Dukuh Paruk lebih memikat dengan kisah cabul warga Dukuh Paruk yang tidak bisa lepas dari ronggeng dan calung.
Ahmad Tohari dikenal sebagai sosok yang bersahaja dan ramah kepada siapapun. Di masyarakat sekitar tempatnya bermukim, lelaki yang lahir dari rahim desa Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, 13 Juni 1948 ini lebih kondang sebagai kiai ketimbang sastrawan. Ini dikarenakan Ahmad Tohari mengasuh pondok pesantren di tempat tinggalnya. Justru hal ini memudahkannya untuk hidup sebagai manusia biasa di tengah-tengah pamornya yang melejit tinggi di dunia sastra (Yudiono KS, 2003).
Ahmad Tohari pernah menempuh bangku kuliah di beberapa fakultas, seperti Kedokteran, Sospol dan Ekonomi, namun tak ada yang diselesaikannya. Ia lebih memilih dunia sastra hingga mengantarkannya sebagai penulis besar seperti saat ini.
Kang Tohari, panggilan akrabnya, pernah mengenyam berbagai profesi, antara lain wartawan, kolumnis, cerpenis, novelis. Kesemua profesi itu menempatkan Kang Tohari sebagai pekerja sosial yang membaur dengan masyarakatnya. Pernah juga menjadi editor Harian Merdeka. Tulisan atau karya-karyanya bertebaran di berbagai koran dan majalah, antara lain Kompas, Suara Merdeka, Tempo, majalah Amanah, dll. Dia juga dikenal sebagai seorang ekspor kesenian rakyat Jawa dan konsultan untuk kantor regional di departemen kebudayaan dan pendidikan Indonesia.
Proses kreatif Ahmad Tohari berlangsung sejak duduk di bangku SMA. Tetapi waktu itu tulisan-tulisannya masih beredar di kalangan terbatas. Tahun 1970-an Ahmad Tohari mulai mempublikasikan tulisannya. Selanjutnya, tahun 1975 ia mengikuti Sayembara Kincir Angin (lomba penulisan cerpen) yang diselenggarakan Radio Hilversum Nederlands Wareldomproep. Cerpen Ahmad Tohari yang berjudul Jasa-jasa buat Sanwirya keluar sebagai salah satu pemenang sayembara. Sejak itulah kepercayaan dirinya sebagai penulis tumbuh dan memberi motivasi untuk berkarya lebih.
Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidupnya di desa. Sastrawan asal Banyumas ini lebih suka membaur dengan masyarakat desa dari pada hidup di tengah keramaian kota. Kecintaan kehidupan di desa telah menginspirasi Ahmad Tohari untuk melahirkan karya-karya yang kemudian dikagumi dan digemari ba-nyak orang.
Gagasan-gagasannya yang tertuang dalam karya-karya sastranya selalu berdimensi sosial. Misalnya, Ronggeng Dukuh Paruk yang bercerita tentang latar sosial-politik Indonesia. Novel Di Kaki Bukit Cibalak, Orang-orang Proyek, Bekisar Merah, dan Belantik berkisah tentang realitas sosial yang dibenturkan dengan perilaku korupsi. Nuansa spiritual juga tidak bisa lepas dari setiap karya yang lahir dari tangannya. Novel Kubah misalnya, menceritakan tentang kehidupan keagamaan. Bahkan, esai-esainya yang tersebar di media umum lebih banyak menegaskan argumennya tentang kehidupan keagamaan. Dimensi religiusitasnya juga tercermin dalam buku (kumpulan esai) yang berjudul Berhala-berhala Kontemporer diterbitkan oleh Risalah Hati (Surabaya, 1996).
Para penulis fenomenal selalu mengalami masa-masa sulit—yang itu justru menjadikan lebih besar. Begitupun Ahmad Tohari, lantaran novel Ronggeng Dukuh Paruk yang dinilai berhaluan komunis, diciduk aparat kepolisian. Akibatnya, Ronggeng Dukuh Paruk mengalami sensor di bagian-bagian penting namun sensitif. Maklum, saat itu rezim Orde Baru gagah berkuasa hingga segala sesuatu yang berbau menentang negara akan berurusan dengan penjara.
Deskripsinya tentang latar cerita amat detail. Sarat dengan pemilihan diksi yang elok—meski terkesan hiperbolis. Gaya bahasanya adalah sihir yang menghipnose pembaca.
Penokohan yang sangat kuat seperti tokoh Srintil, Rasus, dan Sakarya dalam Ronggeng Dukuh Paruk, atau tokoh Lasi, Darsa, Handarbeni, Kanjat, dalam Berkisar Merah adalah bukti kuatnya imajinasi Ahmad Tohari. Karena memang berdimensi masyarakat pinggiran, tokoh-tokoh itu lebih digambarkan sebagai tokoh yang tak mampu melawan kondisi perubahan zaman. Mereka tetap lugu di desa yang sangat terpencil dan jauh dari kemajuan.
Menurut almarhum YB Mangunwijaya (http://www.ceritanet.com/68tohari.htm, diunduh 16 Maret 2008), Ahmad Tohari adalah novelis spesialis kaum desa dengan segala drama kehidupannya. Ahmad Tohari adalah salah satu dari sedikit penulis Indonesia yang memfiksikan peristiwa pemberontakan komunis tahun 1965 dan hasil pembunuhan massal.
Kini trilogi Ronggeng Dukuh Paruk telah dicetak dalam satu oleh Gramedia dalam versi yang lebih lengkap. Pasalnya, bagian-bagian penting yang pada masa orde baru mengalami “pengguntingan” disertakan kembali. Trilogi ini juga diterjemahkan ke dalam lima bahasa, yaitu bahasa Jepang, Cina, Jerman, Belanda, dan Inggris.
Sukses Ronggeng Dukuh Paruk itu bukan suatu kebetulan. Karena proses penulisan Ahmad Tohari melalui penempaan panjang. Sejak terjadi geger politik yang lebih dikenal dengan gerakan 30 September (G30S/PKI), Ahmad Tohari muda resah, terdapat keinginan kuat dalam dirinya untuk mengungkap fenomena kekerasan, ketidakadilan, dan penderitaan kaum pinggiran melalui karya sastra. Namun, niat itu diurungkannya sampai keadaan benar-benar mendukung untuk menerbitkannya. Itupun harus mengalami penyensoran di beberapa bagian yang dianggap penting. Sebagai ganti, kang Tohari pun menulis Novel pertamanya yang diberi judul Di Kaki Bukit Cibalak. Ronggeng Dukuh Paruk pun lahir setelah melalui proses panjang.
Lingkungan di mana Tohari dibesarkan sedikit banyak mempengaruhi karya-karyanya. Sebagai pe-ngarang, Tohari sangat piawai mengembangkan ide-ide dalam karya sastranya yang berlatar budaya masyarakat tempat dia tinggal. Karena ia me-nganggap segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah kepunyaan Tuhan yang mesti dikaji umat manusia, termasuk ronggeng, salah satu kebudayaan daerah yang menginspirasi dan menjadi ciri khas novel Ronggeng Dukuh Paruk. Ketika banyak orang menganggap ronggeng sebagai perempuan “tak baik”, bagi Tohari ronggeng adalah kepunyaan Tuhan yang bisa dijadikan bahan renungan.
Bagi sastrawan NU ini, menulis adalah pekerjaan yang menyenangkan. Tak ada keterikatan waktu, sebagaimana orang be-kerja. Ide kreatifnya pun tak berhenti de-ngan menulis sastra berbahasa Indonesia, kemudian diterjemahkan kedalam bahasa asing, namun lebih dari itu, Ahmad Tohari pun akhirnya menerbitkan Ronggeng Dukuh Paruk dan Berkisar Merah dalam bahasa ibunya, bahasa Jawa dialek Banyumas.
Daya kreatifitasnya telah menjadikan Ahmad Tohari memperoleh penghargaan di tingkat nasional dan internasional. Dia pernah hadir di Fellowship International Writers Program di Iowa, Amerika, pada tahun 1990. Adapun Southeast Asian Writers Award diterimanya pada tahun 1995. Kemudian pada tahun 2007 menerima penghargaan Rancage Award.
Media Dakwah
Penulis yang berlatar belakang pesan-tren ini berusaha menerjemahkan agama melalui budaya. Selama ini sangat sedikit orang memandang agama sebagai budaya, kebanyakan orang menganggap agama sebagai wahyu. Padahal agama adalah penafsiran dari wahyu.
Melalui karya-karya sastranya, pembaca dapat melihat sosok Ahmad Tohari mempunyai kepekaan sosial yang tinggi. Yudiono KS, melalui bukunya Ahmad Tohari: Karya dan Dunianya (2003) memaparkan, Ahmad Tohari memilih sastra sebagai media berdakwah. Bagi Ahmad Tohari, sastra mampu mencerahkan batin manusia agar senantiasa mau membaca ayat-ayat Tuhan—ayat-ayat kauniyah yang nampak dari wujud dan realitas alam. Dengan menulis, Ahmad Tohari berharap mampu membangun moral masyarakat menjadi lebih beradab. Yakni masyarakat yang bersih, tidak suka menipu, korupsi, dll.
“Sastra dan agama adalah wujud pertanggungjawaban terhadap peradaban, agama menggunakan kitab suci, sedangkan sastra merupakan karya akal budi manusia. Orang yang membaca karya sastra akan mendapat kearifan” (Yudiono KS, 2003).
Karya-karya Tohari secara tidak langsung menunjukkan bagaiamana keprihatinan dirinya terhadap kondisi agama, budaya, bangsa dan negara. Terhadap perubahan kondisi lingkungan yang makin rusak, dan efeknya terhadap rakyat. Tokoh-tokoh dalam karya sastranya selalu orang-orang kecil, ini menunjukkan keberpihakan Tohari terhadap mereka yang tersingkir, menderita, terjepit dan mereka yang tergilas perubahan zaman.
Yudiono KS membagi karya-karya Ahmad Tohari dalam tiga kelompok. Pertama, novel-novel yang berwarna geger politik tahun 1965, yaitu Roggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, Jentera Bianglala, Lingkar Tanah Lingkar Air, dan Kubah.
Kedua, novel-novel yang berwarna korupsi sebagai dampak pembangunan, yaitu Di Kaki Bukit Cibalak, Berkisar Merah, Belantik, dan Orang-orang Proyek.
Ketiga, Cerpen-cerpen dalam Senyum Karyamin dan Nyanyian Malam yang berwarna pelangi kehidupan sosial.
Menurut Yudiono KS, Ahmad Tohari adalah sosok pengarang yang senantiasa “hamil sastra”. Artinya dia mengalami kondisi batin yang memaksa harus menulis karya sastra agar tidak tersiksa jiwanya. Kepiawaian Tohari mampu mengungkap keikhlasan, cinta, kasih, kejujuran, kesewang-wenangan, ketidakadilan, dan ketertindasan dalam karya yang dihasilkannya.
Karya-karya Ahmad Tohari antara lain: Kubah (1980), Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jentera Bianglala (1986), Di Kaki Bukit Cibalak (1986), Senyum Karyamin (1989), Bekisar Merah (1993), Belantik (2001), Orang-orang Proyek (2002), dan Rusmi Ingin Pulang (2004), Mas Mantri Menggugat (kumpulan kolom), Berhala-berhala Kontemporer (kumpulan esai). Dia juga meluncurkan kamus Banyumasan pada tahun 1996.
–Siti Muslimah
Warga Soeket Teki
Posted in Uncategorized | Tagged tokoh | 2 Comments »



![Frozen lake [Explored] Frozen lake [Explored]](http://static.flickr.com/7154/6775468053_d50864e5be_t.jpg)

