“Orang-orang dengan kesedihan mendalam menunjukkan diri mereka (benar-benar ada) saat bahagia.” Demikian diungkapkan Friedrich Nietzsche, filsuf asal Jerman.
Bahwa, orang-orang dengan pende-ritaan tingkat tinggi memiliki cara untuk menangkap kebahagiaan seolah-olah mereka ingin menghancurkannya kembali karena sadar betul kebahagiaan itu akan lari jauh (lagi). Orang-orang macam itu tahu penuh, kebahagiaan bukanlah hal pasif, apalagi konstan. Sementara, penderitaan adalah mutlak sebagai punggung jalan untuk mengejar kebahagiaan yang terus lari dan hilang di tiap-tiap tikungan waktu.
Benarlah! Tingkat kebahagiaan yang dirasakan seseorang setimpal dengan penderitaan yang dilalui untuk mendapatkan sukacita itu. Pun sukacita yang menyelimut awak redaksi Soeket Teki seganjar dengan penempaan panjang yang berliku dalam penerbitan majalah di tangan pembaca ini.
Jalan yang redaksi tempuh tidak selengang jalan tetamanan di belakang rumah. Melainkan bebatuan cadas yang selalu hendak menggunting tapak kaki. Maka adalah sukacita yang paripurna setelah Majalah Sastra Soeket Teki Edisi 3 ini hadir menyumbang sepercik cahaya yang (semoga) melentera.
Ini adalah bukti bahwa awak redaksi Soeket Teki yang sedang “mencari bentuk berdiri” di bawah ketegaran Surat Kabar Mahasiswa (SKM) AMANAT berusaha membaur dengan kebudayaan. Kegairahan SKM AMANAT terhadap dunia sastra adalah bentuk penyaluran naluri membangun nurani e(ste)tik—etik dan estetik.
Karya ini lahir atas seleksi ketat setiap naskah yang masuk, baik dari kawanan punggawa SKM AMANAT maupun “relawan”. Dan, tetaplah Soeket Teki, bicara sastra dengan rasa.
Ramuan di dalamnya cukup matang dengan berbagai komposisi bumbu yang sepadan. Tampil dua naskah cerita pendek yang lahir dari proses kreatif para penulis. Sajak-sajak dan puisi mengajak hati menyu-sun irama denyut nadi dalam nada-nada seni. Movement Art atau Seni Pergerakan disajikan dalam Laporan Reportase Sastra kali ini. Juga ramuan-ramuan lain yang saling melengkapi.
Tak henti-henti Soeket Teki menden-dangkan doa agar semua tulisan yang hadir tak sekadar mempengaruhi rasa (haru) hati. Tapi juga memprakarsai tindak, mendasari lakon, dan memantapkan langkah untuk mengukir relief kehidupan yang berkisah tentang kedamaian dan cinta kasih. Iqra’! Redaksi
Nurani E(ste)tik
April 30, 2009 by suketeki







hazooooooo…..mana post terbarunya??????