Oleh Siti Muslimah
Di jagad sastra Indonesia, nama Ahmad Tohari tak asing lagi. Salah satu sastrawan besar dengan ciri khas tersendiri yang selalu berkisah tentang kehidupan wong cilik. Karakter karya-karya dengan jelas diidentifikasi oleh khalayak sebagai “sastra desa”. Sastra Ahmad Tohari tak habis-habisnya mengisahkan kondisi sosial masyarakat desa yang terpinggirkan secara ekonomi maupun politik.
Membincang Ahmad Tohari, sulit dilepaskan dengan karya emasnya, novel Ronggeng Dukuh Paruk. Trilogi novel itu merupakan salah satu karya sastra Indonesia terpenting yang mengisahkan perubahan sosial-politik pada kurun waktu 1965-an. Di mana saat terjadi geger politik yang eskalasinya nasional dan melibatkan banyak korban, baik korban politik maupun korban kemanusiaan.
Namun yang terpenting di balik itu adalah penggambaran kondisi masya-rakat Dukuh Paruk yang bersahaja dalam kemiskinan. Tak bisa dinafikan, deskripsi tentang tata kehidupan warga Dukuh Paruk mewakili latar sosial yang menggejala saat itu. Dukuh Paruk adalah bagian terkecil dari gambaran kemiskinan masyarakat Indonesia yang hidup di pedesaan. Dan, Ahmad Tohari dengan gamblang menyingkap tabir ironi di negeri yang subur ini. Ronggeng Dukuh Paruk lebih memikat dengan kisah cabul warga Dukuh Paruk yang tidak bisa lepas dari ronggeng dan calung.
Ahmad Tohari dikenal sebagai sosok yang bersahaja dan ramah kepada siapapun. Di masyarakat sekitar tempatnya bermukim, lelaki yang lahir dari rahim desa Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, 13 Juni 1948 ini lebih kondang sebagai kiai ketimbang sastrawan. Ini dikarenakan Ahmad Tohari mengasuh pondok pesantren di tempat tinggalnya. Justru hal ini memudahkannya untuk hidup sebagai manusia biasa di tengah-tengah pamornya yang melejit tinggi di dunia sastra (Yudiono KS, 2003).
Ahmad Tohari pernah menempuh bangku kuliah di beberapa fakultas, seperti Kedokteran, Sospol dan Ekonomi, namun tak ada yang diselesaikannya. Ia lebih memilih dunia sastra hingga mengantarkannya sebagai penulis besar seperti saat ini.
Kang Tohari, panggilan akrabnya, pernah mengenyam berbagai profesi, antara lain wartawan, kolumnis, cerpenis, novelis. Kesemua profesi itu menempatkan Kang Tohari sebagai pekerja sosial yang membaur dengan masyarakatnya. Pernah juga menjadi editor Harian Merdeka. Tulisan atau karya-karyanya bertebaran di berbagai koran dan majalah, antara lain Kompas, Suara Merdeka, Tempo, majalah Amanah, dll. Dia juga dikenal sebagai seorang ekspor kesenian rakyat Jawa dan konsultan untuk kantor regional di departemen kebudayaan dan pendidikan Indonesia.
Proses kreatif Ahmad Tohari berlangsung sejak duduk di bangku SMA. Tetapi waktu itu tulisan-tulisannya masih beredar di kalangan terbatas. Tahun 1970-an Ahmad Tohari mulai mempublikasikan tulisannya. Selanjutnya, tahun 1975 ia mengikuti Sayembara Kincir Angin (lomba penulisan cerpen) yang diselenggarakan Radio Hilversum Nederlands Wareldomproep. Cerpen Ahmad Tohari yang berjudul Jasa-jasa buat Sanwirya keluar sebagai salah satu pemenang sayembara. Sejak itulah kepercayaan dirinya sebagai penulis tumbuh dan memberi motivasi untuk berkarya lebih.
Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidupnya di desa. Sastrawan asal Banyumas ini lebih suka membaur dengan masyarakat desa dari pada hidup di tengah keramaian kota. Kecintaan kehidupan di desa telah menginspirasi Ahmad Tohari untuk melahirkan karya-karya yang kemudian dikagumi dan digemari ba-nyak orang.
Gagasan-gagasannya yang tertuang dalam karya-karya sastranya selalu berdimensi sosial. Misalnya, Ronggeng Dukuh Paruk yang bercerita tentang latar sosial-politik Indonesia. Novel Di Kaki Bukit Cibalak, Orang-orang Proyek, Bekisar Merah, dan Belantik berkisah tentang realitas sosial yang dibenturkan dengan perilaku korupsi. Nuansa spiritual juga tidak bisa lepas dari setiap karya yang lahir dari tangannya. Novel Kubah misalnya, menceritakan tentang kehidupan keagamaan. Bahkan, esai-esainya yang tersebar di media umum lebih banyak menegaskan argumennya tentang kehidupan keagamaan. Dimensi religiusitasnya juga tercermin dalam buku (kumpulan esai) yang berjudul Berhala-berhala Kontemporer diterbitkan oleh Risalah Hati (Surabaya, 1996).
Para penulis fenomenal selalu mengalami masa-masa sulit—yang itu justru menjadikan lebih besar. Begitupun Ahmad Tohari, lantaran novel Ronggeng Dukuh Paruk yang dinilai berhaluan komunis, diciduk aparat kepolisian. Akibatnya, Ronggeng Dukuh Paruk mengalami sensor di bagian-bagian penting namun sensitif. Maklum, saat itu rezim Orde Baru gagah berkuasa hingga segala sesuatu yang berbau menentang negara akan berurusan dengan penjara.
Deskripsinya tentang latar cerita amat detail. Sarat dengan pemilihan diksi yang elok—meski terkesan hiperbolis. Gaya bahasanya adalah sihir yang menghipnose pembaca.
Penokohan yang sangat kuat seperti tokoh Srintil, Rasus, dan Sakarya dalam Ronggeng Dukuh Paruk, atau tokoh Lasi, Darsa, Handarbeni, Kanjat, dalam Berkisar Merah adalah bukti kuatnya imajinasi Ahmad Tohari. Karena memang berdimensi masyarakat pinggiran, tokoh-tokoh itu lebih digambarkan sebagai tokoh yang tak mampu melawan kondisi perubahan zaman. Mereka tetap lugu di desa yang sangat terpencil dan jauh dari kemajuan.
Menurut almarhum YB Mangunwijaya (http://www.ceritanet.com/68tohari.htm, diunduh 16 Maret 2008), Ahmad Tohari adalah novelis spesialis kaum desa dengan segala drama kehidupannya. Ahmad Tohari adalah salah satu dari sedikit penulis Indonesia yang memfiksikan peristiwa pemberontakan komunis tahun 1965 dan hasil pembunuhan massal.
Kini trilogi Ronggeng Dukuh Paruk telah dicetak dalam satu oleh Gramedia dalam versi yang lebih lengkap. Pasalnya, bagian-bagian penting yang pada masa orde baru mengalami “pengguntingan” disertakan kembali. Trilogi ini juga diterjemahkan ke dalam lima bahasa, yaitu bahasa Jepang, Cina, Jerman, Belanda, dan Inggris.
Sukses Ronggeng Dukuh Paruk itu bukan suatu kebetulan. Karena proses penulisan Ahmad Tohari melalui penempaan panjang. Sejak terjadi geger politik yang lebih dikenal dengan gerakan 30 September (G30S/PKI), Ahmad Tohari muda resah, terdapat keinginan kuat dalam dirinya untuk mengungkap fenomena kekerasan, ketidakadilan, dan penderitaan kaum pinggiran melalui karya sastra. Namun, niat itu diurungkannya sampai keadaan benar-benar mendukung untuk menerbitkannya. Itupun harus mengalami penyensoran di beberapa bagian yang dianggap penting. Sebagai ganti, kang Tohari pun menulis Novel pertamanya yang diberi judul Di Kaki Bukit Cibalak. Ronggeng Dukuh Paruk pun lahir setelah melalui proses panjang.
Lingkungan di mana Tohari dibesarkan sedikit banyak mempengaruhi karya-karyanya. Sebagai pe-ngarang, Tohari sangat piawai mengembangkan ide-ide dalam karya sastranya yang berlatar budaya masyarakat tempat dia tinggal. Karena ia me-nganggap segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah kepunyaan Tuhan yang mesti dikaji umat manusia, termasuk ronggeng, salah satu kebudayaan daerah yang menginspirasi dan menjadi ciri khas novel Ronggeng Dukuh Paruk. Ketika banyak orang menganggap ronggeng sebagai perempuan “tak baik”, bagi Tohari ronggeng adalah kepunyaan Tuhan yang bisa dijadikan bahan renungan.
Bagi sastrawan NU ini, menulis adalah pekerjaan yang menyenangkan. Tak ada keterikatan waktu, sebagaimana orang be-kerja. Ide kreatifnya pun tak berhenti de-ngan menulis sastra berbahasa Indonesia, kemudian diterjemahkan kedalam bahasa asing, namun lebih dari itu, Ahmad Tohari pun akhirnya menerbitkan Ronggeng Dukuh Paruk dan Berkisar Merah dalam bahasa ibunya, bahasa Jawa dialek Banyumas.
Daya kreatifitasnya telah menjadikan Ahmad Tohari memperoleh penghargaan di tingkat nasional dan internasional. Dia pernah hadir di Fellowship International Writers Program di Iowa, Amerika, pada tahun 1990. Adapun Southeast Asian Writers Award diterimanya pada tahun 1995. Kemudian pada tahun 2007 menerima penghargaan Rancage Award.
Media Dakwah
Penulis yang berlatar belakang pesan-tren ini berusaha menerjemahkan agama melalui budaya. Selama ini sangat sedikit orang memandang agama sebagai budaya, kebanyakan orang menganggap agama sebagai wahyu. Padahal agama adalah penafsiran dari wahyu.
Melalui karya-karya sastranya, pembaca dapat melihat sosok Ahmad Tohari mempunyai kepekaan sosial yang tinggi. Yudiono KS, melalui bukunya Ahmad Tohari: Karya dan Dunianya (2003) memaparkan, Ahmad Tohari memilih sastra sebagai media berdakwah. Bagi Ahmad Tohari, sastra mampu mencerahkan batin manusia agar senantiasa mau membaca ayat-ayat Tuhan—ayat-ayat kauniyah yang nampak dari wujud dan realitas alam. Dengan menulis, Ahmad Tohari berharap mampu membangun moral masyarakat menjadi lebih beradab. Yakni masyarakat yang bersih, tidak suka menipu, korupsi, dll.
“Sastra dan agama adalah wujud pertanggungjawaban terhadap peradaban, agama menggunakan kitab suci, sedangkan sastra merupakan karya akal budi manusia. Orang yang membaca karya sastra akan mendapat kearifan” (Yudiono KS, 2003).
Karya-karya Tohari secara tidak langsung menunjukkan bagaiamana keprihatinan dirinya terhadap kondisi agama, budaya, bangsa dan negara. Terhadap perubahan kondisi lingkungan yang makin rusak, dan efeknya terhadap rakyat. Tokoh-tokoh dalam karya sastranya selalu orang-orang kecil, ini menunjukkan keberpihakan Tohari terhadap mereka yang tersingkir, menderita, terjepit dan mereka yang tergilas perubahan zaman.
Yudiono KS membagi karya-karya Ahmad Tohari dalam tiga kelompok. Pertama, novel-novel yang berwarna geger politik tahun 1965, yaitu Roggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, Jentera Bianglala, Lingkar Tanah Lingkar Air, dan Kubah.
Kedua, novel-novel yang berwarna korupsi sebagai dampak pembangunan, yaitu Di Kaki Bukit Cibalak, Berkisar Merah, Belantik, dan Orang-orang Proyek.
Ketiga, Cerpen-cerpen dalam Senyum Karyamin dan Nyanyian Malam yang berwarna pelangi kehidupan sosial.
Menurut Yudiono KS, Ahmad Tohari adalah sosok pengarang yang senantiasa “hamil sastra”. Artinya dia mengalami kondisi batin yang memaksa harus menulis karya sastra agar tidak tersiksa jiwanya. Kepiawaian Tohari mampu mengungkap keikhlasan, cinta, kasih, kejujuran, kesewang-wenangan, ketidakadilan, dan ketertindasan dalam karya yang dihasilkannya.
Karya-karya Ahmad Tohari antara lain: Kubah (1980), Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jentera Bianglala (1986), Di Kaki Bukit Cibalak (1986), Senyum Karyamin (1989), Bekisar Merah (1993), Belantik (2001), Orang-orang Proyek (2002), dan Rusmi Ingin Pulang (2004), Mas Mantri Menggugat (kumpulan kolom), Berhala-berhala Kontemporer (kumpulan esai). Dia juga meluncurkan kamus Banyumasan pada tahun 1996.
–Siti Muslimah
Warga Soeket Teki





![Desire.. [Explored] 22.2.12 Desire.. [Explored] 22.2.12](http://static.flickr.com/7194/6921502699_4cb090c84f_t.jpg)

Kula jane kepengine donlot nek ana novel versi bahasa banyumasan. Duwene bahasa indonesia, kurang mantep rasane koh. Saget napa mboten niku
Mboten wonten kang.