<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kampoeng Sastra Suket Teki</title>
	<atom:link href="http://suketteki.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://suketteki.wordpress.com</link>
	<description>Komunitas Sastra Semarang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Jan 2012 15:41:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='suketteki.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Kampoeng Sastra Suket Teki</title>
		<link>http://suketteki.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://suketteki.wordpress.com/osd.xml" title="Kampoeng Sastra Suket Teki" />
	<atom:link rel='hub' href='http://suketteki.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Nurani E(ste)tik</title>
		<link>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/nurani-estetik/</link>
		<comments>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/nurani-estetik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 09:19:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suketeki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/nurani-estetik/</guid>
		<description><![CDATA[“Orang-orang dengan kesedihan mendalam menunjukkan diri mereka (benar-benar ada) saat bahagia.” Demikian diungkapkan Friedrich Nietzsche, filsuf asal Jerman. Bahwa, orang-orang dengan pende-ritaan tingkat tinggi memiliki cara untuk menangkap kebahagiaan seolah-olah mereka ingin menghancurkannya kembali karena sadar betul kebahagiaan itu akan lari jauh (lagi). Orang-orang macam itu tahu penuh, kebahagiaan bukanlah hal pasif, apalagi konstan. Sementara, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suketteki.wordpress.com&amp;blog=471252&amp;post=135&amp;subd=suketteki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Orang-orang dengan kesedihan mendalam menunjukkan diri mereka (benar-benar ada) saat bahagia.” Demikian diungkapkan Friedrich Nietzsche, filsuf asal Jerman.<br />
Bahwa, orang-orang dengan pende-ritaan tingkat tinggi memiliki cara untuk menangkap kebahagiaan seolah-olah mereka ingin menghancurkannya kembali karena sadar betul kebahagiaan itu akan lari jauh (lagi). Orang-orang macam itu tahu penuh, kebahagiaan bukanlah hal pasif, apalagi konstan. Sementara, penderitaan adalah mutlak sebagai punggung jalan untuk mengejar kebahagiaan yang terus lari dan hilang di tiap-tiap tikungan waktu.<br />
Benarlah! Tingkat kebahagiaan yang dirasakan seseorang setimpal dengan penderitaan yang dilalui untuk mendapatkan sukacita itu. Pun sukacita yang menyelimut awak redaksi Soeket Teki seganjar dengan penempaan panjang yang berliku dalam penerbitan majalah di tangan pembaca ini.<br />
Jalan yang redaksi tempuh tidak selengang jalan tetamanan di belakang rumah. Melainkan bebatuan cadas yang selalu hendak menggunting tapak kaki. Maka adalah sukacita yang paripurna setelah Majalah Sastra Soeket Teki Edisi 3 ini hadir menyumbang sepercik cahaya yang (semoga) melentera.<br />
Ini adalah bukti bahwa awak redaksi Soeket Teki yang sedang “mencari bentuk berdiri” di bawah ketegaran Surat Kabar Mahasiswa (SKM) AMANAT berusaha membaur dengan kebudayaan. Kegairahan SKM AMANAT terhadap dunia sastra adalah bentuk penyaluran naluri membangun nurani e(ste)tik—etik dan estetik.<br />
Karya ini lahir atas seleksi ketat setiap naskah yang masuk, baik dari kawanan punggawa SKM AMANAT maupun “relawan”. Dan, tetaplah Soeket Teki, bicara sastra dengan rasa.<br />
Ramuan di dalamnya cukup matang dengan berbagai komposisi bumbu yang sepadan. Tampil dua naskah cerita pendek yang lahir dari proses kreatif para penulis. Sajak-sajak dan puisi mengajak hati menyu-sun irama denyut nadi dalam nada-nada seni. Movement Art atau Seni Pergerakan disajikan dalam Laporan Reportase Sastra kali ini. Juga ramuan-ramuan lain yang saling melengkapi.<br />
Tak henti-henti Soeket Teki menden-dangkan doa agar semua tulisan yang hadir tak sekadar mempengaruhi rasa (haru) hati. Tapi juga memprakarsai tindak, mendasari lakon, dan memantapkan langkah untuk mengukir relief kehidupan yang berkisah tentang kedamaian dan cinta kasih. Iqra’! Redaksi</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suketteki.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suketteki.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suketteki.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suketteki.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suketteki.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suketteki.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suketteki.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suketteki.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suketteki.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suketteki.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suketteki.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suketteki.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suketteki.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suketteki.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suketteki.wordpress.com&amp;blog=471252&amp;post=135&amp;subd=suketteki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/nurani-estetik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5c5fbba6057f7d0c248e5e6d3c729dde?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suketeki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tantangan Ajal di Dasar Laut</title>
		<link>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/tantangan-ajal-di-dasar-laut/</link>
		<comments>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/tantangan-ajal-di-dasar-laut/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 09:18:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suketeki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/tantangan-ajal-di-dasar-laut/</guid>
		<description><![CDATA[Judul : Dragon Penulis : Cilve Clussler Penerjemah : Arif Nugroho Penerbit : Dastan Books Tebal : 630 hlm Cetakan : I, Januari 2009 Resensator : Musyafak Dennings’ Demons, pesawat pasukan sekutu yang hendak menjatuhkan bom di kepulauan Negara Jepang, jatuh memeluk dasar laut usai ditembak pesawat Mitsubishi A6M Zero. Itu ketegangan pertama yang hadir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suketteki.wordpress.com&amp;blog=471252&amp;post=134&amp;subd=suketteki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul : Dragon<br />
Penulis : Cilve Clussler<br />
Penerjemah : Arif Nugroho<br />
Penerbit : Dastan Books<br />
Tebal : 630 hlm<br />
Cetakan : I, Januari 2009<br />
Resensator :<br />
Musyafak</p>
<p>Dennings’ Demons, pesawat pasukan sekutu yang hendak menjatuhkan bom di kepulauan Negara Jepang, jatuh memeluk dasar laut usai ditembak pesawat Mitsubishi A6M Zero. Itu ketegangan pertama yang hadir dalam novel Dragon karya Clive Clusser.<br />
Novel petualangan itu diawali rencana pemboman tentara sekutu di beberapa bagian wilayah Jepang. Sebuah perseteruan politik perang menjelang berakhirnya Perang Dunia II pada Agustus 1945.<br />
Divine Star, kapal kargo yang mengangkut mobil ekspor tenggelam di pusaran Laut Pasifik. Awak kapal Narvik yang melintas di bawah komando kapten Arne Korvold berusaha mengevakuasi Divine Star guna mendapatkan klaim penyelamatan. Sebuah peruntungan harta yang cukup berlimpah bagi awak kapal jika berhasil memastikan klaim penyelamatan atas kapal itu. Tapi lacur, saat beberapa awak kapal Narvik mengevakuasi Divine Star, kapal pengangkut mobil-mobil mewah itu meledak.<br />
Big John, kendaraan penambang laut berbentuk kapal selam dilengkapi sekop dan pencengkeram, mengalami kepayahan oleh ledakan di dekat permukaan laut itu. Lembah-lembah di dasar laut terguncang hingga menggugurkan bebatuan.  Kapal selam yang berfungsi mengambil sampel geologikal dasar laut itu tertimpa gugguran bebatuan hingga mustahil bergerak. Belum lagi salah satu mesin kapal selam malfungsi.<br />
Dirk Pitt, Direktur Khusus Proyek Khusus di NUMA (The National Underwater and Marine Agency—Dinas Bawah Laut dan Kelautan Nasional) Amerika serikat, hampir kewalahan mengemudi Big John. Sementara Plunkett terus mengutuki ajal yang kian mendekat. Berbeda dengan Pitt, pribadi tangguh yang tidak gampang me-nyerah. Pitt menolak kata “kematian” sekaligus cengkeram bahaya kata itu dirasakan begitu dekat. Petualang Pitt puluhan kali “mendekati ajal” ketika mengarungi dasar laut, tapi kelincahannya mengemudi kapal selam membuatnya selamat. Pitt banyak dikagumi oleh kehebatannya menghindari ajal di saat-saat sulit di dasar laut.<br />
Dinding Big John berlubang akibat desakan benda dari luar. Perlahan-lahan air masuk ke ruang generator kapal. Pitt tak bisa menampik rasa panik yang terus datang menghantui. Gemiricik air terdengar bagai iring-iringan malaikat penjemput nyawa. Dengan sebuah pipa, Pitt mampu menutup lubang itu. Tapi hanya untuk sementara waktu. Tekanan air laut lebih besar, dan lubang dengan tetap melebar.<br />
Pelan-pelan Big John terangkat dari kedalaman 5200 di dasar laut menuju permukaan. Ketika kapal selam penambang ini melayang-melayang dengan keseimbangan yang tak tentu, air makin deras menyesaki ruangan generator. Sebentar saja, air memuncak hampir menyentuh turbin generator. Jika air menenggelamkan turbin, tamatlah mereka. Karena turbin itulah penghasil tenaga penggerak Big John.<br />
Pitt dan Plunkett pasrah pada ketidakberdayaan ketika Big John terjun menuju dasar laut. Ketika mereka hendak keluar kapal dan berkeputusan berenang dari kedaalam laut yang tak terukur menuju permukaan, Al Giordino muncul membawa penyelamatan yang tepat waktu. Pitt merasai keajaiban penyelamatan Al Giordino tetap menggembalakan nyawanya.<br />
Pasca ledakan di Laut Pasifik itu, dunia Barat ribut-ribut soal nuklir yang mengancam. Meledaknya Divine Star adalah bukti awal Jepang tengah berupaya menggunakan nuklir untuk mengancam kedaulatan Amerika Serikat. Hulu ledak nuklir dipasang di beberapa mobil ekspor yang diangkut kapal menuju Eropa dan Amerika itu. Diketahui penyelundupan nuklir itu adalah Proyek Kaiten yang dijalankan oleh pebisnis besar Jepang. Hideki Suma menjadi otak segala sesuatu berkaitan dengan nuklir dan penanaman modal asing di Amerika.<br />
Bersamaan itu perang finansial hampir mendesak Amerika pada situasi krisis. Kurun waktu 1993 situasi ekonomi Amerika Serikat dikuasai Jepang. Para pengusaha Jepang mempunyai investasi lebih dari separuh besaran modal yang ada. Para Anggota parlemen di gedung oval bahkan khawatir harus “menjual” negaranya kepada Jepang. Hideki Suma, pengusaha besar Jepang yang mempunyai pengaruh ekonomi terbesar di Amerika dirasa sebagai ancaman nomor wahid.<br />
Sejatinya pemerintah Jepang tidak mendalangi Proyek Kaiten. Kecuali, orang-orang macam Suma yang mempunyai kepentingan pribadi di belakang kepenti-ngan pemerintah Jepang. Suma mendirikan instalasi pengembangan nuklir tanpa sepengetahuan pemerintah. Hingga seolah-olah, Proyek Kaiten adalah agenda besar Jepang untuk meruntuhkan Amerika dan Eropa. Karena pemerintah Jepang pada mutlaknya tidak dijalankan oleh politisi. Tapi dikendalikan oleh penggerak usaha yang menggoyang di belakang birokrasi.<br />
Masalah nuklir kemudian melebur dalam masalah baru, harta jarahan Perang Dunia II. Karena ternyata proyek itu dibiayai oleh besarnya harta rampasan yang dijarah selama Perang Dunia II senilai ratusan miliar dolar. Pemerintah resmi Jepang hampir ti-dak mendapat kontribusi “harta gelap” tersebut. Harta jarahan itu dikelola secara rapi oleh Koda Suma, ayah Hideki Suma, yang membentuk organisasi Gold Dragon. Gold Dragon dikuasai oleh militer bawah tanah Jepang seusai Perang Dunia II.<br />
Ancaman Kaiten kembali menyeret Dirk Pitt pada petualangan dasar laut yang berbahaya. Pitt harus menelusuri jejak instalasi nuklir di bawah laut. Dragon Center, pusat organisasi nuklir yang dijalankan Gold Dragon, mutlak harus ditemukan.<br />
Tanggal 9 November 1993, Pitt diumumkan hilang dan meninggal di sebuah kecelakaan di lepas pantai Jepang. NUMA, juga orang-orang teras Amerika merasa berhutang budi pada Pitt yang reputasinya luar biasa mengagumkan. Selama karirnya Pitt mendapat banyak penghargaan di darat maupun di laut. Lelaki penggemar koleksi mobil itu telah menemukan bangkai kapal Serapis dan harta karun La Daroda. Pitt juga menjadi inti pengangkatan bangkai kapal Titanic.<br />
Siapapun telah mengira Pitt telah mati. Berharap lelaki yang tak mau menikah itu masih hidup, adalah kesemuan. Tapi siapa sangka Pitt mendarat selamat di Pulau Marcus, 1.125 kilometer sebelah tenggara Jepang.<br />
Clive Clussler, penulis, mampu mendeskripsikan detail ceritanya. Clussler berhasil melukis setiap ketegangan dengan rangkaian kata-katanya. Alur Dragon sa-ngat laju dan paripurna dengan penyertaan tanggal dan tempat kejadian secara persis. Penulis seolah tidak menceritakan, tetapi menunjukkan lukisan detail pada setiap peristiwa yang menegangkan.<br />
Dragon merupakan serangkaian novel petualangan Dirk Pitt. Di dalamnya, karakter Dirk Pitt konsisten. Tokoh utama itu selalu memiliki citarasa tinggi terhadap mobil—dalam Dragon koleksi yang disukai adalah mobil Stutz. Imaji Clussler tentang laut hampir tidak cacat, lantaran ia sendiri berpengalaman sebagai anggota NUMA yang berpetualang di dasar laut.<br />
Namun, sayang, kesan bertele-tele tidak dapat ditampik. Pembaca akan menemui alur cerita yang sangat panjang—meski sambung menyambung. Ketebalan buku di atas 600 halaman membuat pembaca “menyerah” sebelum membaca.<br />
Meski begitu, novel seri petualangan Dirk Pitt ini tak mengecewakan dibaca oleh penggemar fiksi petualangan. Konsistensi Clussler sebagai pengarang fiksi petualangan mendapat julukan sebagai The Grandmaster of Adventure. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suketteki.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suketteki.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suketteki.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suketteki.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suketteki.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suketteki.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suketteki.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suketteki.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suketteki.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suketteki.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suketteki.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suketteki.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suketteki.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suketteki.wordpress.com/134/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suketteki.wordpress.com&amp;blog=471252&amp;post=134&amp;subd=suketteki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/tantangan-ajal-di-dasar-laut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5c5fbba6057f7d0c248e5e6d3c729dde?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suketeki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>hetero</title>
		<link>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/hetero/</link>
		<comments>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/hetero/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 09:12:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suketeki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/hetero/</guid>
		<description><![CDATA[pagi ini langkah meminta jatah kuturuti&#8230; ku tapakkan pada keramaian saat mentari masih melaksanakan sholat subuh angin memberitahu tentang bingar di sekeliling dan bersama kabut pagi yang menipis memperlihatkanku pada keramaian, pada hetero.. kehirukpikukan dengan berbagai tujuan mimik-mimik berselancar di mataku membentuk ensiklopedi tentang ragam manusia mataku mengajak bibir tuk tersenyum mungkin untuk manusia dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suketteki.wordpress.com&amp;blog=471252&amp;post=133&amp;subd=suketteki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>pagi ini langkah meminta jatah<br />
kuturuti&#8230;<br />
ku tapakkan pada keramaian<br />
saat mentari masih melaksanakan sholat subuh<br />
angin memberitahu tentang bingar di sekeliling<br />
dan bersama kabut pagi yang menipis<br />
memperlihatkanku pada keramaian, pada hetero..<br />
kehirukpikukan dengan berbagai tujuan<br />
mimik-mimik berselancar di mataku<br />
membentuk ensiklopedi tentang ragam manusia<br />
mataku mengajak bibir tuk tersenyum<br />
mungkin untuk manusia dan keadaan itu<br />
selagi langkah masih mau tersaruk-saruk<br />
tak peduli&#8230;<br />
&#8211;Iin Aina,<br />
Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris IAIN Walisongo</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suketteki.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suketteki.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suketteki.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suketteki.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suketteki.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suketteki.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suketteki.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suketteki.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suketteki.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suketteki.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suketteki.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suketteki.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suketteki.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suketteki.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suketteki.wordpress.com&amp;blog=471252&amp;post=133&amp;subd=suketteki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/hetero/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5c5fbba6057f7d0c248e5e6d3c729dde?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suketeki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>sakaw</title>
		<link>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/sakaw/</link>
		<comments>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/sakaw/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 09:03:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suketeki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[p]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suketteki.wordpress.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[wajah-wajah penuh cadas merongrong dengan sisa nafas yang terkuras geliat pagi kekeringan di balik lipatan daun busuk meliuk lambai dan hangat tapi embun itu beku peti mati teronggok tergembok kata kecewa lalu&#8230; jika indera tidak untuk merasa mungkin takkan ada rasa biar sepi bercinta dalam sunyi biar bising larut dan teriak menanti saja pada potongan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suketteki.wordpress.com&amp;blog=471252&amp;post=131&amp;subd=suketteki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>wajah-wajah penuh cadas<br />
merongrong dengan sisa nafas yang terkuras<br />
geliat pagi kekeringan<br />
di balik lipatan daun busuk<br />
meliuk lambai dan hangat<br />
tapi embun itu beku<br />
peti mati teronggok<br />
tergembok kata kecewa<br />
lalu&#8230;</p>
<p>jika indera tidak untuk merasa<br />
mungkin takkan ada rasa<br />
biar sepi bercinta dalam sunyi<br />
biar bising larut dan teriak<br />
menanti saja pada potongan senja<br />
kesadaran dipaksa terus terjaga<br />
ada yang masih meringkuk di kolong langit<br />
di dasar bumi yang keriput dan pikun<br />
beralas desah susah yang terus meracau<br />
mengacak-acak tatanan<br />
aliran darah kian nian menghitam<br />
terhempas di lorong jalan berdebu<br />
pekat&#8230;</p>
<p>dan air mata yang luruh<br />
tak lagi sebening raut pagi<br />
kotor muak muntah<br />
berkerak di sisi jiwa yang kemarau<br />
sampai segenap mata yang telah melebar<br />
sampai jemari yang terulur panjang<br />
hanya sampai pada kematian rasa<br />
lalu muncul tawa-tawa asing<br />
mencemooh yang ceroboh<br />
&#8211;Iin Aina,<br />
Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris IAIN Walisongo</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suketteki.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suketteki.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suketteki.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suketteki.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suketteki.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suketteki.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suketteki.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suketteki.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suketteki.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suketteki.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suketteki.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suketteki.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suketteki.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suketteki.wordpress.com/131/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suketteki.wordpress.com&amp;blog=471252&amp;post=131&amp;subd=suketteki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/sakaw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5c5fbba6057f7d0c248e5e6d3c729dde?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suketeki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tenggelam Lunglai</title>
		<link>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/tenggelam-lunglai/</link>
		<comments>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/tenggelam-lunglai/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 08:54:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suketeki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/tenggelam-lunglai/</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah bayang indah Datang dalam kegelapan malam Bersama remang-remang cahaya bintang keabadian Yang telah menyatu dengan angan Kutemukan tersenyum di depanku Dengan membawa setangkai anggrek putih Dari taman hati miliknya Dia… Pemberi setetes air saat dahaga Penyejuk ketika panas membara Pengobat setia di saat kuterluka Kemudian, kuterbawa oleh deburan jantungnya Oleh tiupan angin cinta bersamanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suketteki.wordpress.com&amp;blog=471252&amp;post=130&amp;subd=suketteki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah bayang indah<br />
Datang dalam kegelapan malam<br />
Bersama remang-remang cahaya bintang keabadian<br />
Yang telah menyatu dengan angan<br />
Kutemukan tersenyum di depanku<br />
Dengan membawa setangkai anggrek putih<br />
Dari taman hati miliknya</p>
<p>Dia…<br />
Pemberi setetes air saat dahaga<br />
Penyejuk ketika panas membara<br />
Pengobat setia di saat kuterluka<br />
Kemudian, kuterbawa oleh deburan jantungnya<br />
Oleh tiupan angin cinta bersamanya</p>
<p>Walau terkadang…<br />
Kasih itu tumpah oleh amarah<br />
Tercecer dalam gulungan ombak<br />
Merapih dalam sunyi, lalu tenggelam lunglai<br />
Atau tersesat meniti jalan berliku<br />
Menyatu dengan tumpukan batu<br />
Tapi kau dan aku pasti tahu<br />
Itu bukan rintangan kelabu<br />
Karena dia pasti kembali di bawah keagungan-Nya<br />
Dalam cinta dan doa<br />
Yang mengiringi langkah kebahagiaan kita<br />
&#8211;Siti Nila Rokhmana<br />
Kru Magang SKM AMANAT</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suketteki.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suketteki.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suketteki.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suketteki.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suketteki.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suketteki.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suketteki.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suketteki.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suketteki.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suketteki.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suketteki.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suketteki.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suketteki.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suketteki.wordpress.com/130/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suketteki.wordpress.com&amp;blog=471252&amp;post=130&amp;subd=suketteki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/tenggelam-lunglai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5c5fbba6057f7d0c248e5e6d3c729dde?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suketeki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Napi No. 13</title>
		<link>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/napi-no-13/</link>
		<comments>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/napi-no-13/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 08:50:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suketeki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/napi-no-13/</guid>
		<description><![CDATA[Kembang api meluncur bak roket merajai angin. tak ada kata. mata terpukau melumat keindahan yang melimpah. tak ada kekasih mengecup bermabukkan asmara. hanya lembabnya malam dan jeruji bui berbaris memasung raga. tak peduli apakah bintang turun ke bumi malam ini atau tidak. tak peduli bidadari sedang sibuk meminang pangeran langit malam ini dengan mahar kucing [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suketteki.wordpress.com&amp;blog=471252&amp;post=129&amp;subd=suketteki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kembang api meluncur bak roket merajai angin.<br />
tak ada kata.<br />
mata terpukau melumat keindahan yang melimpah.<br />
tak ada kekasih mengecup bermabukkan asmara.<br />
hanya lembabnya malam dan jeruji bui berbaris memasung raga.<br />
tak peduli apakah bintang turun ke bumi malam ini atau tidak.<br />
tak peduli bidadari sedang sibuk meminang pangeran langit malam ini dengan mahar kucing atau tidak.<br />
tak peduli apakah jin aladin keluar dari lampu ajaib<br />
tuk berikan tiga permintaan ajaib atau tidak.<br />
yang aku ingin sesali adalah dosaku.<br />
dosa karna telah mencuri ayam tetangga yang tak seberapa.<br />
maka, ku pejamkan mataku.<br />
ku pandang langit yang bertaburan gemerlap api yang menari.<br />
dan, dengan sepenuh hati.<br />
dan, dengan sepenuh jiwa.<br />
dan dengan segala harapan yang termuarakan.<br />
ku tengadahkan tangan, dan lirih ku ucapkan doa:<br />
“tuhan, kelak jika telah habis masa hukumanku.<br />
jangan biarkan aku menjadi pecuri kelas teri seperti ini<br />
angkat derajatku, tuhan<br />
dan jadikanlah aku ini wakil rakyat<br />
karna hanya dengannya, kan dapat ku curi uang berkopor-kopor<br />
dan jikapun, kau kirim aku ke bui ini lagi,<br />
sungguh aku rela, tuhan<br />
karna bagiku ini hanyalah perpindahan maqom (tempat)<br />
ke hotel lain yang fasilitasnya tak jauh beda dengan apartemen mahal<br />
maka, dengan setulus hati, ya mujib<br />
kabulkanlah doa hambamu yang papa ini…..<br />
amiiiiiin<br />
&#8211;Siti Lestari,<br />
Warga Kampoeng Sastra Soeket Teki Semarang</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suketteki.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suketteki.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suketteki.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suketteki.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suketteki.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suketteki.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suketteki.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suketteki.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suketteki.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suketteki.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suketteki.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suketteki.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suketteki.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suketteki.wordpress.com/129/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suketteki.wordpress.com&amp;blog=471252&amp;post=129&amp;subd=suketteki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/napi-no-13/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5c5fbba6057f7d0c248e5e6d3c729dde?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suketeki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tebar Kebajikan Lewat Sastra</title>
		<link>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/tebar-kebajikan-lewat-sastra/</link>
		<comments>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/tebar-kebajikan-lewat-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 08:10:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suketeki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/tebar-kebajikan-lewat-sastra/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Siti Muslimah Di jagad sastra Indonesia, nama Ahmad Tohari tak asing lagi. Salah satu sastrawan besar dengan ciri khas tersendiri yang selalu berkisah tentang kehidupan wong cilik. Karakter karya-karya dengan jelas diidentifikasi oleh khalayak sebagai “sastra desa”. Sastra Ahmad Tohari tak habis-habisnya mengisahkan kondisi sosial masyarakat desa yang terpinggirkan secara ekonomi maupun politik. Membincang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suketteki.wordpress.com&amp;blog=471252&amp;post=128&amp;subd=suketteki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Siti Muslimah</p>
<p>Di jagad sastra Indonesia, nama Ahmad Tohari tak asing lagi. Salah satu sastrawan besar dengan ciri khas tersendiri yang  selalu berkisah tentang kehidupan wong cilik. Karakter karya-karya dengan jelas diidentifikasi oleh khalayak sebagai “sastra desa”. Sastra Ahmad Tohari tak habis-habisnya mengisahkan kondisi sosial masyarakat desa yang terpinggirkan secara ekonomi maupun politik.<br />
Membincang Ahmad Tohari, sulit dilepaskan dengan karya emasnya, novel Ronggeng Dukuh Paruk. Trilogi novel itu merupakan salah satu karya sastra Indonesia terpenting yang mengisahkan perubahan sosial-politik pada kurun waktu 1965-an. Di mana saat terjadi geger politik yang eskalasinya nasional dan melibatkan banyak korban, baik korban politik maupun korban kemanusiaan.<br />
Namun yang terpenting di balik itu adalah penggambaran kondisi masya-rakat Dukuh Paruk yang bersahaja dalam kemiskinan. Tak bisa dinafikan, deskripsi tentang tata kehidupan warga Dukuh Paruk mewakili latar sosial yang menggejala saat itu. Dukuh Paruk adalah bagian terkecil dari gambaran kemiskinan masyarakat Indonesia yang hidup di pedesaan. Dan, Ahmad Tohari dengan gamblang menyingkap tabir ironi di negeri yang subur ini. Ronggeng Dukuh Paruk lebih memikat dengan kisah cabul warga Dukuh Paruk yang tidak bisa lepas dari ronggeng dan calung.<br />
Ahmad Tohari dikenal sebagai sosok yang bersahaja dan ramah kepada siapapun. Di masyarakat sekitar tempatnya bermukim, lelaki yang lahir dari rahim desa Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, 13 Juni 1948 ini lebih kondang sebagai kiai ketimbang sastrawan. Ini dikarenakan Ahmad Tohari mengasuh pondok pesantren di tempat tinggalnya. Justru hal ini memudahkannya untuk hidup sebagai manusia biasa di tengah-tengah pamornya yang melejit tinggi di dunia sastra (Yudiono KS, 2003).<br />
Ahmad Tohari pernah menempuh bangku kuliah di beberapa fakultas, seperti Kedokteran, Sospol dan Ekonomi, namun tak ada yang diselesaikannya. Ia lebih memilih dunia sastra hingga mengantarkannya sebagai penulis besar seperti saat ini.<br />
Kang Tohari, panggilan akrabnya, pernah mengenyam berbagai profesi, antara lain wartawan, kolumnis, cerpenis, novelis. Kesemua profesi itu menempatkan Kang Tohari sebagai pekerja sosial yang membaur dengan masyarakatnya. Pernah juga menjadi editor Harian Merdeka. Tulisan atau karya-karyanya bertebaran di berbagai koran dan majalah, antara lain Kompas, Suara Merdeka, Tempo, majalah Amanah, dll. Dia juga dikenal sebagai seorang ekspor kesenian rakyat Jawa dan konsultan untuk kantor regional di departemen kebudayaan dan pendidikan Indonesia.<br />
Proses kreatif Ahmad Tohari berlangsung sejak duduk di bangku SMA. Tetapi waktu itu tulisan-tulisannya masih beredar di kalangan terbatas. Tahun 1970-an Ahmad Tohari mulai mempublikasikan tulisannya. Selanjutnya, tahun 1975 ia mengikuti Sayembara Kincir Angin (lomba penulisan cerpen) yang diselenggarakan Radio Hilversum Nederlands Wareldomproep. Cerpen Ahmad Tohari yang berjudul Jasa-jasa buat Sanwirya keluar sebagai salah satu pemenang sayembara. Sejak itulah kepercayaan dirinya sebagai penulis tumbuh dan memberi motivasi untuk berkarya lebih.<br />
Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidupnya di desa. Sastrawan asal Banyumas ini lebih suka membaur dengan masyarakat desa dari pada hidup di tengah keramaian kota. Kecintaan kehidupan di desa telah menginspirasi Ahmad Tohari untuk melahirkan karya-karya yang kemudian dikagumi dan digemari ba-nyak orang.<br />
Gagasan-gagasannya yang tertuang dalam karya-karya sastranya selalu berdimensi sosial. Misalnya, Ronggeng Dukuh Paruk yang bercerita tentang latar sosial-politik Indonesia. Novel Di Kaki Bukit Cibalak, Orang-orang Proyek, Bekisar Merah, dan Belantik berkisah tentang realitas sosial yang dibenturkan dengan perilaku korupsi. Nuansa spiritual juga tidak bisa lepas dari setiap karya yang lahir dari tangannya. Novel Kubah misalnya, menceritakan tentang kehidupan keagamaan. Bahkan, esai-esainya yang tersebar di media umum lebih banyak menegaskan argumennya tentang  kehidupan keagamaan. Dimensi religiusitasnya juga tercermin dalam buku (kumpulan  esai) yang berjudul Berhala-berhala Kontemporer diterbitkan oleh Risalah Hati (Surabaya, 1996).<br />
Para penulis fenomenal selalu mengalami masa-masa sulit—yang itu justru menjadikan lebih besar. Begitupun Ahmad Tohari, lantaran novel Ronggeng Dukuh Paruk yang dinilai berhaluan komunis, diciduk aparat kepolisian. Akibatnya, Ronggeng Dukuh Paruk mengalami sensor di bagian-bagian penting namun sensitif. Maklum, saat itu rezim Orde Baru gagah berkuasa hingga segala sesuatu yang berbau menentang negara akan berurusan dengan penjara.<br />
Deskripsinya tentang latar cerita amat detail. Sarat dengan pemilihan diksi yang elok—meski terkesan hiperbolis. Gaya bahasanya adalah sihir yang menghipnose pembaca.<br />
Penokohan yang sangat kuat seperti tokoh Srintil, Rasus, dan Sakarya dalam Ronggeng Dukuh Paruk, atau tokoh Lasi, Darsa, Handarbeni, Kanjat, dalam Berkisar Merah adalah bukti kuatnya imajinasi Ahmad Tohari. Karena memang berdimensi masyarakat pinggiran, tokoh-tokoh itu lebih digambarkan sebagai tokoh yang tak mampu melawan kondisi perubahan zaman. Mereka tetap lugu di desa yang sangat terpencil dan jauh dari kemajuan.<br />
Menurut almarhum YB Mangunwijaya (http://www.ceritanet.com/68tohari.htm, diunduh 16 Maret 2008), Ahmad Tohari adalah novelis spesialis kaum desa dengan segala drama kehidupannya. Ahmad Tohari adalah salah satu dari sedikit penulis Indonesia yang memfiksikan peristiwa pemberontakan komunis tahun 1965 dan hasil pembunuhan massal.<br />
Kini trilogi Ronggeng Dukuh Paruk telah  dicetak dalam satu oleh Gramedia dalam versi yang lebih lengkap. Pasalnya, bagian-bagian penting yang pada masa orde baru mengalami “pengguntingan” disertakan kembali. Trilogi ini juga diterjemahkan ke dalam lima bahasa, yaitu bahasa Jepang, Cina, Jerman, Belanda, dan Inggris.<br />
Sukses Ronggeng Dukuh Paruk itu bukan suatu kebetulan. Karena proses penulisan Ahmad Tohari melalui penempaan panjang. Sejak terjadi geger politik yang lebih dikenal dengan gerakan 30 September (G30S/PKI), Ahmad Tohari muda resah, terdapat keinginan kuat dalam dirinya untuk mengungkap fenomena kekerasan, ketidakadilan, dan penderitaan kaum pinggiran melalui karya sastra. Namun, niat itu diurungkannya sampai keadaan benar-benar mendukung untuk menerbitkannya. Itupun harus mengalami penyensoran di beberapa bagian yang dianggap penting. Sebagai ganti, kang Tohari pun menulis Novel pertamanya yang diberi judul Di Kaki Bukit Cibalak. Ronggeng Dukuh Paruk pun lahir setelah melalui proses panjang.<br />
Lingkungan di mana Tohari dibesarkan sedikit banyak mempengaruhi karya-karyanya. Sebagai pe-ngarang, Tohari sangat piawai mengembangkan ide-ide dalam karya sastranya yang berlatar budaya masyarakat tempat dia tinggal. Karena ia me-nganggap segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah kepunyaan Tuhan yang mesti dikaji umat manusia, termasuk ronggeng, salah satu kebudayaan daerah yang menginspirasi dan menjadi ciri khas novel Ronggeng Dukuh Paruk. Ketika banyak orang menganggap ronggeng sebagai perempuan “tak baik”, bagi Tohari ronggeng adalah kepunyaan Tuhan yang bisa dijadikan bahan renungan.<br />
Bagi sastrawan NU ini, menulis adalah pekerjaan yang menyenangkan. Tak ada keterikatan waktu, sebagaimana orang be-kerja. Ide kreatifnya pun tak berhenti de-ngan menulis sastra berbahasa Indonesia, kemudian diterjemahkan kedalam bahasa asing, namun lebih dari itu, Ahmad Tohari pun akhirnya menerbitkan Ronggeng Dukuh Paruk dan Berkisar Merah dalam bahasa ibunya, bahasa Jawa dialek Banyumas.<br />
Daya kreatifitasnya telah menjadikan Ahmad Tohari memperoleh penghargaan di tingkat nasional dan internasional. Dia pernah hadir di Fellowship International Writers Program di Iowa, Amerika, pada tahun 1990. Adapun Southeast Asian Writers Award diterimanya pada tahun 1995. Kemudian pada tahun 2007 menerima penghargaan Rancage Award.<br />
Media Dakwah<br />
Penulis yang berlatar belakang pesan-tren ini berusaha menerjemahkan agama melalui budaya. Selama ini sangat sedikit orang memandang agama sebagai budaya, kebanyakan orang menganggap agama sebagai wahyu. Padahal agama adalah penafsiran dari wahyu.<br />
Melalui karya-karya sastranya, pembaca dapat melihat sosok Ahmad Tohari mempunyai kepekaan sosial yang tinggi. Yudiono KS, melalui bukunya Ahmad Tohari: Karya dan Dunianya (2003) memaparkan, Ahmad Tohari memilih sastra sebagai media berdakwah. Bagi Ahmad Tohari, sastra mampu mencerahkan batin manusia agar senantiasa mau membaca ayat-ayat Tuhan—ayat-ayat kauniyah yang nampak dari wujud dan realitas alam. Dengan menulis, Ahmad Tohari berharap mampu membangun moral masyarakat menjadi lebih beradab. Yakni masyarakat yang bersih, tidak suka menipu, korupsi, dll.<br />
 “Sastra dan agama adalah wujud pertanggungjawaban terhadap peradaban, agama menggunakan kitab suci, sedangkan sastra merupakan karya akal budi manusia. Orang yang membaca karya sastra akan mendapat kearifan”  (Yudiono KS, 2003).<br />
Karya-karya Tohari secara tidak langsung menunjukkan bagaiamana keprihatinan dirinya terhadap kondisi agama, budaya, bangsa dan negara. Terhadap perubahan kondisi lingkungan yang makin rusak, dan efeknya terhadap rakyat. Tokoh-tokoh dalam karya sastranya selalu orang-orang kecil, ini menunjukkan keberpihakan Tohari terhadap mereka yang tersingkir, menderita, terjepit dan mereka yang tergilas perubahan zaman.<br />
Yudiono KS membagi karya-karya Ahmad Tohari dalam tiga kelompok. Pertama, novel-novel yang berwarna geger politik tahun 1965, yaitu Roggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, Jentera Bianglala, Lingkar Tanah Lingkar Air, dan Kubah.<br />
Kedua, novel-novel yang berwarna korupsi sebagai dampak pembangunan, yaitu Di Kaki Bukit Cibalak, Berkisar Merah, Belantik, dan Orang-orang Proyek.<br />
Ketiga, Cerpen-cerpen dalam Senyum Karyamin dan Nyanyian Malam yang berwarna pelangi kehidupan sosial.<br />
Menurut Yudiono KS, Ahmad Tohari adalah sosok pengarang yang senantiasa “hamil sastra”. Artinya dia mengalami kondisi batin yang memaksa harus menulis karya sastra agar tidak tersiksa jiwanya. Kepiawaian Tohari mampu mengungkap keikhlasan, cinta, kasih, kejujuran, kesewang-wenangan, ketidakadilan, dan ketertindasan dalam karya yang dihasilkannya.<br />
Karya-karya Ahmad Tohari antara lain: Kubah (1980), Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jentera Bianglala (1986), Di Kaki Bukit Cibalak (1986), Senyum Karyamin (1989), Bekisar Merah (1993), Belantik (2001), Orang-orang Proyek (2002), dan Rusmi Ingin Pulang (2004), Mas Mantri Menggugat (kumpulan kolom), Berhala-berhala Kontemporer (kumpulan esai). Dia juga meluncurkan kamus Banyumasan pada tahun 1996. <br />
&#8211;Siti Muslimah<br />
Warga Soeket Teki<img src="http://suketteki.files.wordpress.com/2009/04/5.jpg?w=500" alt="5" title="5"   class="alignnone size-full wp-image-127" /></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suketteki.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suketteki.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suketteki.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suketteki.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suketteki.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suketteki.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suketteki.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suketteki.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suketteki.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suketteki.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suketteki.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suketteki.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suketteki.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suketteki.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suketteki.wordpress.com&amp;blog=471252&amp;post=128&amp;subd=suketteki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/tebar-kebajikan-lewat-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5c5fbba6057f7d0c248e5e6d3c729dde?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suketeki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://suketteki.files.wordpress.com/2009/04/5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">5</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membingkai Seni dalam Gerakan</title>
		<link>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/membingkai-seni-dalam-gerakan/</link>
		<comments>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/membingkai-seni-dalam-gerakan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 08:05:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suketeki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[reportase sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/membingkai-seni-dalam-gerakan/</guid>
		<description><![CDATA[Seni tak sekadar mempengaruhi rasa (haru) hati. Tapi seni harus mampu mempelopori sikap manusia. Oleh Nanik Kurniawati Senin 9 Maret 2009, gedung Ki Nartosabdo Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang dihujani suara petikan gitar. Diiringi koor para pengunjung yang seirama mengikuti refrain sebuah lagu kerakyatan: Yang miskin tambah miskin/ kita&#8230;kita&#8230;kita Yang kaya tambah kaya/ kamu&#8230;kamu&#8230;kamu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suketteki.wordpress.com&amp;blog=471252&amp;post=126&amp;subd=suketteki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seni tak sekadar mempengaruhi rasa (haru) hati. Tapi seni harus mampu mempelopori sikap manusia.</p>
<p>Oleh Nanik Kurniawati</p>
<p>Senin 9 Maret 2009, gedung Ki Nartosabdo Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang dihujani suara petikan gitar. Diiringi koor para pengunjung yang seirama mengikuti refrain sebuah lagu kerakyatan:</p>
<p>Yang miskin tambah miskin/ kita&#8230;kita&#8230;kita<br />
Yang kaya tambah kaya/ kamu&#8230;kamu&#8230;kamu</p>
<p>Lagu Kita-kita Kamu-kamu itu berakhir dengan gemuruh tepuk tangan pengunjung.<br />
Semua pasang mata pengunjung terpesona oleh dua lelaki yang tetap kelihatan enerjik meski didesak usia yang kian menua, duduk di atas gelaran permadani hijau muda. Dua lelaki itu adalah Garin Nugroho dan Franky Sahilatua.<br />
Dua seniman itu tengah bersua dengan masyarakat Semarang dalam acara Ngob-rol Bersama Garin Nugroho dan Franky Sahilatua. Keduanya didaulat Lembaga Studi Pers dan Informasi (LeSPI) untuk menggagas tema Civil Society Menjelang Pemilu 2009.<br />
Obrolan santai ini sesekali diiringi alunan gitar. Ada beberapa lagu yang dibawakan Franki Sahilatua dan diiringi puisi oleh Garin. Diantaranya Pancasila Rumah Kita, Suara dari Kemiskinan, Pohon dan Merah Putih, dan Kita-kita Kamu-kamu.<br />
Kesemua lagu-lagu itu berkisah tentang keindonesiaan. Ada semangat nasionalisme yang menggugat seperti dalam lagu Suara dari Kemiskinan berkisah tentang kemalangan hidup manusia Papua, padahal mereka dikurung kelimpahan alam: kami tidur di atas emas/  berenang di atas minyak/ tapi bukan kami punya/ semua anugerah itu/ kami cuma berdagang/ buah-buah pinang.<br />
“Lagu itu tercipta saat perjalanan saya di Indonesia bagian timur. Keadaan rakyat Papua sungguh miris. Kekayaan alam begitu melimpah. Tapi dieksploitasi sedemikian rupa hingga mereka tidak menikmati hasilnya,” kata Garin.<br />
Kesempatan itu, dimanfaatkan Garin dan Franky untuk membawakan “Dongeng Perubahan”. Sementara Franky menyanyi, Garin bercerita tentang kepapaan rakyat dengan aksentuasi dan rima yang tegas, puitis, sekaligus menggetarkan hati.<br />
Ngobrol bareng Garin Nugroho dan Franky Sahilatua itu kentara menyuarakan perubahan. Bagi keduanya, perubahan adalah mutlak untuk memperbaiki tata kehidupan kebangsaan Indonesia. “Kalau ingin perubahan baru, maka pemimpinnya harus baru,” kata Franky.<br />
Hal itu tergambar jelas dalam syair-syair lagu Franky yang menyuarakan kegelisahan rakyat. Kentara lagu-lagunya mendamba seorang pemimpin yang peduli pada rakyat. Bukan pemimpin yang menjadi “makelar” setelah duduk di kursi pemerintahan.<br />
Terkait dengan itu, Garin melontarkan kritik pedas terhadap bangsa ini. “Indonesia adalah bangsa makelar. Bangsa yang hanya menjadi perantara hingga masya-rakatnya sendiri menjadi konsumtif,” kata sutradara film Opera Jawa ini.<br />
Seni Pergerakan<br />
Pada diskusi yang berlangsung kurang lebih dua jam itu, Garin banyak menuturkan argumennya. Sineas yang film-filmnya laku di negeri jiran ini memaparkan, ada tiga hal tujuan seni. Yaitu, seni untuk seni, seni untuk industri, dan seni untuk pergerakan.<br />
“Bahwa seni tak sekadar mempengaruhi rasa (haru) bagi hati manusia. Tapi seni seharusnya mampu mempelopori sikap manusia. Maka tidak salah jika kami meng-usung seni pergerakan,” kata Garin.<br />
Franky mengamini pendapat Garin. Hingga Franky berkesimpulan bahwa seniman juga sah terjun ke dunia politik. “De-ngan tujuan membela kepentingan rakyat dan membawa bangsa Indonesia ke depan menjadi lebih baik,” tutur pelantun lagu Bus Kota ini.<br />
Penyanyi yang melejit di era 70-an itu berpandangan, seni memiliki kontribusi besar bagi perubahan bangsa. “Negeri ini lahir atas fantasi besar seorang penyair. Betapa besar sumbangan W R Supratman yang menciptakan lagu Indonesia Raya hingga pada tahun 1928 terjadi kongres besar para pemuda seluruh Indoensia, Sumpah Pemuda,” terangnya.<br />
Meski begitu, terbesit keraguan akan kesucian seni pergerakan yang melibatkan diri dalam dunia politik. Hal itu diungkapkan oleh salah satu peserta diskusi siang itu.<br />
“Apakah seni yang terlibat politik bisa dijamin kemurniannya? Mungkinkah kesenian macam itu malah ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu?” tanya seorang perempuan muda yang tidak mau memperkenalkan namanya, tapi mengaku sebagai ibu rumah tangga biasa.<br />
Garin santai menanggapi pertanyaan itu. “Indonesia ibarat sebuah gerbong kereta yang dihuni banyak orang. Masing-masing punya kepentingan yang berbeda namun tujuan mereka sama,” tutur Garin.<br />
Orang-orang di dalamnya, tambah pembesut film  Cinta dalam Sepotong Roti ini, harus berperan agar gerbong yang ditumpangi tetap aman dan nyaman. Maka mereka harus memberi kontribusi sesuai kemampuan peran yang dimiliki. Yang bisanya membersihkan, ya membersihkan gerbong. Begitu juga seniman. Seniman sebagai warga negara mempunyai hak yang sama untuk berperan dalam politik.<br />
“Saya akan tetap menjadi penyanyi. Begitu juga Garin, tetap menjadi sutradara. Tak peduli gerakan politik yang kami usung. Tak peduli siapa nanti yang jadi presiden. Kami tetap akan menjadi seniman,” tambah Franky menguatkan.<br />
Seni tak sekadar hiburan yang hanya mampu memberi kesenangan. Ibarat para aktivis pergerakan melakukan demo, atau seorang penulis menggugat dengan pena, maka seniman berbicara lewat lagu dan karyanya. Tiap karya seni pergerakan harus menyuarakan kepentingan rakyat. Juga menyampaikan jeritan rakyat sesungguhnya.<br />
Miskin Negarawan<br />
Garin dan Franky prihatin atas keadaan bangsa Indonesia yang kini sangat miskin negarawan. Hijrah politik besar-besaran saat ini hanya melahirkan politisi-politisi baru. Bukan melahirkan negarawan-negarawan yang berorientasi pada perubahan. “Pemimpin-pemimpin kita sudah tak lagi punya rasa haru, maka rakyatlah yang menerima imbasnya,” ujar Garin.<br />
Terkait pemilu 2009 mendatang, Franky menyeru agar masyarakat menggunakan hak pilihnya agar turut serta memberikan kontribusi bagi perubahan bangsa indonesia. “Siapapun yang anda pilih, itu sangat berarti dalam dinamika politik bangsa,” ujarnya.<br />
Yang lebih penting, dalam pandangan Garin, adalah masing-masing warga Indonesia harus menjadi negarawan. Negarawan tidak sebatas politisi. Pedagang harus mempunyai jiwa negarawan. Seniman juga harus negarawan. Pelajar juga negarawan.<br />
Karenanya, Garin menyeru agar semua warga negara sadar atas situasi politik bangsa. Mahasiswa, pelajar, pedagang, tukang sapu, pedagang, pengamen, seniman dan lainnya harus berpolitik.<br />
“Namun politik tak harus berpartai. Politik di sini bukan dalam rangka mencari kekuasaan. Tapi demi perubahan,” tegas Garin. Garin dan Franky yakin, jika indonesia mempunyai negarawan yang senantiasa menggulirkan perubahan, maka takkan terjadi krisis di Indonesia.<br />
Acara itu dipungkasi dengan gemuruh peserta menyanyikan lagu Kemesraan yang lahir dari karsa Franky dan Iwan Fals. Semangat kebersamaan demi perubahan Indonesia berkobar-kobar teriring setiap petikan gitar dan suara yang memekik mengi-ringi irama lagu. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suketteki.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suketteki.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suketteki.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suketteki.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suketteki.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suketteki.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suketteki.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suketteki.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suketteki.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suketteki.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suketteki.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suketteki.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suketteki.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suketteki.wordpress.com/126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suketteki.wordpress.com&amp;blog=471252&amp;post=126&amp;subd=suketteki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/membingkai-seni-dalam-gerakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5c5fbba6057f7d0c248e5e6d3c729dde?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suketeki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kitalah Presiden Bangsa Ini</title>
		<link>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/kitalah-presiden-bangsa-ini/</link>
		<comments>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/kitalah-presiden-bangsa-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 08:03:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suketeki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/kitalah-presiden-bangsa-ini/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Siti Lestari “Siapapun yang memiliki daya angon, daya menggembalakan, kesanggupan untuk ngemong semua pihak, karakter untuk merangkul dan memesrai siapa saja; sesama saudara sebangsa, memancarkan kasih sayang yang dibutuhkan dan dapat diterima oleh semua warna, semua golongan, semua kecenderungan. Bocah angon adalah seorang pemimpin nasional. Bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan.”¬ &#8211;Tafsir Tembang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suketteki.wordpress.com&amp;blog=471252&amp;post=125&amp;subd=suketteki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Siti Lestari</p>
<p>“Siapapun yang memiliki daya angon, daya menggembalakan, kesanggupan untuk ngemong semua pihak, karakter untuk merangkul dan memesrai siapa saja; sesama saudara sebangsa, memancarkan kasih sayang yang dibutuhkan dan dapat diterima oleh semua warna, semua golongan, semua kecenderungan. Bocah angon adalah seorang pemimpin nasional. Bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan.”¬<br />
&#8211;Tafsir Tembang Lir-Ilir Emha Ainun Nadjib (Budayawan)<br />
Sungguh diskripsi yang amat gamblang!<br />
Dunia politik sedang marak. Ribuan kaki terjulur untuk saling menjegal. Lidah melengkung-lekung untuk saling menyindir. Memuji diri, menghujat lawan. Inilah dunia politik, dunia dengan segala keanehan yang tersaji dengan menjadikan rakyat sebagai bola perebutan untuk mencetak gol di lapangan keserakahan akan kekuasaan.<br />
Dan, saat nasib negeri tercinta Indonesia sedang disayembarakan. Tangan siapa yang laik mendesain? Emha Ainun Nadjib, akrab disapa Cak Nun, begitu cerdas menelanjangi makna pemimpin sebenarnya.<br />
Cak Nun mengambil metafora dalam tembang Lir-Ilir yang digubah Sunan Kalijaga:  Semantik dari tembang Lir-Ilir ber-kisah banyak tentang kehidupan,  tentang keimanan yang menjadi dasar dalam me-ngarungi hidup, tentang sepenggal negeri, dan tentunya tentang figur pemimpin ideal. Lir-Ilir, sebuah tembang dengan lirik berbahasa Jawa, sarat makna yang tak habis dibahas sepanjang masa.<br />
Semakin hari rakyat semakin kehilang-an kepercayaan terhadap kepemimpinan pemerintah. Visi misi kepemimpinan yang awalnya melambungkan harapan berbalik menjadi pengkhianatan menyakitkan. Selalu saja, masalah perut dan kasur menjadi pemicu utama mereka mengkhianati janji setia kepada rakyat. Selalu saja, demi sebuah hak yang seharusnya didapat rakyat justru menuntut tumbal dengan gugurnya para prajurit-prajurit reformasi yang mati di tengah demonstrasi.<br />
Pemimpin ideal telah terkikis oleh zaman. Pejuang nasib rakyat dengan lebih mengedepankan kesejahteraan rakyat telah tumbang. Pemimpin yang rela terjaga di tengah malam demi tidur lelap dan perut kenyang rakyat telah lama mati. Dan, ratus-an, ribuan, bahkan jutaan manusia berdasi datang menggantikan untuk memenuhi meja dinas pemerintahan. Tak heran jika akhirnya timbul komunitas-komunitas yang mutung dan memutuskan untuk golput.<br />
Di zaman serba mesin ini, sulit untuk dapat menemukan pemimpin yang memiliki kriteria laiknya digambarkan oleh Cak Nun. Seorang yang memiliki jiwa berdaya angon, yaitu daya untuk melindungi gembalanya (rakyat) dari serangan serigala (berbagai permasalahan sosial yang pelik, seperti perekonomian dan kesejahteraan rakyat) yang selalu datang mengancam keutuhan kehidupan.<br />
Kita sebagai rakyat jelata hanya bisa berharap di atas puing-puing keraguan. Berharap agar pemimpin mau mengatur naik dan turunnya harga sembako. Berharap agar jalan-jalan yang buruk rupa dapat dipoles sehingga meminimalisasi jumlah kecelakaan. Berharap kartu berobat miskin dapat selalu tergenggam di jemari agar sewaktu-waktu jika pancaroba datang rakyat dapat minum puyer gratis. Sungguh, permintaan sangat sederhana untuk negeri yang disebut-sebut sebagai “Sebongkah tanah yang dicampakan dari surga ini”.<br />
Kemelaratan ini seyogyanya tak terjadi jika setiap individu merasa layak untuk menjadikan dirinya sebagai presiden di kehidupannya. Di setiap potong episode kehidupan, manusia tanpa harus bersikap laiknya pengemis yang meminta belas kasihan sang majikan—pemerintah.<br />
Mencintai tanah air adalah sebagian dari iman.<br />
Sungguh motivasi penuh telah Rasul alirkan pada darah setiap muslim. Sebuah ajakan tersirat untuk mencambuk masing-masing raga agar menyingsingkan lengan demi kesejahteraan universal. Mencintai tidak cukup dengan membayangkan, say love tanpa bukti, apalagi sekedar gemuruh jiwa yang tak berstatus. Cinta butuh realisasi, seperti cinta seorang ibu kepada anak-nya yang terbukti rela banting tulang—tulang banting demi kesenangan anaknya.<br />
Maka cinta kepada Indonesia adalah sebuah tuntutan kesempurnaan iman yang meminta bukti. Sebuah pembuktian yang dapat diwujudkan dengan selalu memberikan pencerahan dan keluasan pengetahuan bagi seorang pengajar kepada muridnya. Seperti terbangunnya taman kota yang dapat menghantarkan negara sebagai ikon dunia untuk para arsitektur, seperti anggota DPR yang menyetujui kuota rapat sidang jika hal itu benar-benar menguntungkan rakyat. Seperti presiden yang menggembala kabinetnya untuk melayani rakyat melebihi pelayanan seorang hamba sahaya kepada tuannya. Seperti rakyat yang merasa bertanggungjawab membuat jaya bangsanya, tanpa lebih banyak menuntut dan menyalahkan tanpa berbuat apapun.<br />
Kita adalah pemimpin. Kita adalah presiden untuk negeri sendiri. Dan, hanya di ta-ngan kitalah seharusnya nasib bangsa dapat ditentukan. Bukan di tangan para politisi yang terus berkoar-koar, sikut kanan sikut kiri, mencuri start kampanye, dan mereka yang hatinya tak pernah dapat ditebak. <br />
&#8211;Siti Lestari,<br />
Penyair, warga Kampoeng Sastra Soeketteki Semarang.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suketteki.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suketteki.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suketteki.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suketteki.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suketteki.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suketteki.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suketteki.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suketteki.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suketteki.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suketteki.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suketteki.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suketteki.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suketteki.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suketteki.wordpress.com/125/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suketteki.wordpress.com&amp;blog=471252&amp;post=125&amp;subd=suketteki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/kitalah-presiden-bangsa-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5c5fbba6057f7d0c248e5e6d3c729dde?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suketeki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Logika Industri Sastra Islami</title>
		<link>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/logika-industri-sastra-islami/</link>
		<comments>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/logika-industri-sastra-islami/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 08:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suketeki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[esai sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/logika-industri-sastra-islami/</guid>
		<description><![CDATA[Sastra islami telah (direkayasa) mengikuti logika pasar. Akibatnya, kelatahan massal tidak bisa ditampik. Oleh Musyafak Sastra Indonesia mengalami guncang-an luar biasa usai novel Ayat-ayat Cinta (AAC) karya Habiburrahman Al-Shirazy (2004) “merajai” pasar. Sejak itulah sastra islami ramai-ramai dibincang dalam horisaon sastra Indonesia. Kemudian secara sadar menempatkan AAC sebagai bagian dari karya sastra yang lahir dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suketteki.wordpress.com&amp;blog=471252&amp;post=124&amp;subd=suketteki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sastra islami telah (direkayasa) mengikuti logika pasar. Akibatnya, kelatahan massal tidak bisa ditampik.</p>
<p>Oleh Musyafak</p>
<p>Sastra Indonesia mengalami guncang-an luar biasa usai novel Ayat-ayat Cinta (AAC) karya Habiburrahman Al-Shirazy (2004) “merajai” pasar. Sejak itulah sastra islami ramai-ramai dibincang dalam horisaon sastra Indonesia.<br />
Kemudian secara sadar menempatkan AAC sebagai bagian dari karya sastra yang lahir dari koridor islam. Kegandrungan pembaca pada AAC telah menimbulkan kelatahan berkepanjang-an yang kemudian masuk dalam jejaring pasar.<br />
Meski AAC bukanlah jabang bayi karya sastra yang kini dielu-elukan sebagai sastra islami itu, tapi kehadirannya adalah dentuman besar yang menggairahkan fiksi berlatar islam. Jauh sebelum AAC menggetarkan jagad kesusasteraan Indonesia yang penjualannya mencapai 300 ribu eksemplar lebih—bahkan ditonton lebih dari 3 juta pasang mata ketika difilmkan oleh Hanung Brmantyo—Forum Lingkar Pena (FLP) berdiri pada tahun 1997 dengan mengusung tema bercorak islami.<br />
Kita tidak bisa mungkir, karya-karya sastra yang dielu-elukan “islami” itu membawa misi tersendiri bagi percaturan spiri-tualitas manusia modern. Bahwa tiadapun karsa dan karya lahir dari kehampaan suasana. Alias, karsa manusia selalu lahir dengan keterikatan sebab-musababnya. Dan, sastra islami itu mengklaim dirinya lahir sebagai upaya syiar keagamaan, dakwah islam. Kehadirannya mampu memberi pencerahan spiritualitas serta pemahaman tentang islam.<br />
Spiritual dan Logika Pasar<br />
Kekeringan spiritualitas manusia modern telah memberi ruang yang lapang bagi sastra islami. Kita tidak bisa menampik bahwa manusia terkini lebih memilih mempelajari agama dan menuruti perburuan spiritual lewat buku-buku ringan seperti novel. Daya magnet novel islami begitu kuat karena corak pembahasaan pesan-pesan agama disampaikan secara sederhana, ringan, dan elastis. Berbeda dengan buku-buku agama yang cenderung ilmiah, apalagi kitab-kitab klasik, yang kini hanya dipelajari oleh segelintir orang.<br />
Adapun ruang yang dimaksud adalah pasar. Bahwa pasar telah memberi tempat yang luas bagi tumbuhkembangnya karya sastra macam itu karena animo masyarakat sangat tinggi terhadapnya. Lantas jaring-jaring pasar menciptakan skema yang jelas untuk membuat logika industri terkait sastra islam yang telah masuk dalam tataran mass culture (budaya massa).<br />
Logika industri sangat mempengaruhi perkembangan sastra islami. Pasar telah menancapkan strategi, merekayasa bentuk, dan memapankan gaya, dan (bahkan) membuat kisi-kisi atas isi karya-karya sastra. Pada akhirnya pasar mendorong penyesuaian bentuk karya sastra islami agar diterima dan diapresiasi pembaca demi meningkatkan laba industri.<br />
Buktinya adalah berkembangnya sayap-sayap penerbitan buku-buku (sastra) islam. Misalnya Dar! Mizan yang melabeli terbitannya dengan Nori (Novel Remaja Islam), atau Gema Insani yang juga melabeli terbitannya dengan sebutan Fikri (Fiksi Remaja Islam). Penerbit yang sejak awal telah kukuh menerbitkan buku-buku umum pun pada akhirnya tertarik pada karya fiksi islami karena pangsa pasarnya luas.<br />
Hingga dalam waktu yang sekejap pasar buku islami sangat bergelora. Dan pasar itu cepat disesaki oleh banyak “aktor” yang memainkan fiksi islami sebagai bahan kepenulisan. Meski begitu, pasar tidak mudah mengalami kejenuhan karena animo masyarakat sangat besar terhadap trendsetter novel islami.<br />
Latah dan Monoton<br />
Tapi tak bisa dimungkiri, pasar dan kegandrungan pembaca yang luar bisa pada sastra islami telah melahirkan kelatah-an yang luar biasa pula. Banyak penulis muncul dengan membawakan tema seragam. Bahkan alur cerita pun banyak yang hampir mirip.<br />
“Cinta” hampir menjadi satu-satunya tema yang diangkat. Hal itu dapat dilihat dari judul-judulnya: Ayat-ayat Cinta (Republika), Ketika Cinta Bertasbih (Republika), Musafir Cinta (Diva Press). Bahkan penerbit berlomba untuk sebanyak-banyaknya memasarkan fiksi islami: Dalam Perjamuan Cinta (Republika), Dalam Sujud Cinta dan Takdir Cinta (Lingkar Pena), Perempuan Suci, Lafaz Cinta, Berselimut Surban Cinta, dan Mukjizat Cinta (Diva Press), Bismillah Ini Tentang Cinta, dan Bait-bait Cinta (Grafindo). Itu baru perwakilan saja, sebab ada ratusan buku berjudul cinta yang sampul depannya kebanyakan bergambar perempuan (berjilbab atau bercadar).<br />
Tema cinta yang dihadirkan pun terasa dangkal—atau pelan-pelan secara alami mengalami pendangkalan—karena cinta di dalamnya sebatas manifestasi perasaan manusia yang berlainan jenis. Cinta yang harus memilih di antara pesona kelelakian atau keperempuanan. Ini bertolakbelakang dengan cinta yang disampaikan penyair islam klasik seperti Jalaluddin Rumi, Rabi’ah Al-Adawiyah, ataupun Ibn Arabi yang mengisahkan bait-bait cinta berisi spiritualitas fundamental manusia dalam “mencumbu” Tuhan.<br />
Padahal, cinta yang tidak disadari tapi pelan-pelan menjadi gaib adalah cinta yang bersifat  kemanusiaan universal: kepedulian, empati, kedamaian,  dan cinta kasih sesama. Sayang, fiksi islami belum menyentuh tataran itu. Yang berusaha dikedepankan hanyalah bagaimana mencitrakan tokoh dengan nuansa islam yang paripurna. Hingga yang tampak tak lebih dari tujuan ingin mengatakan “Inilah orang islam” melalui tokoh-tokoh yang digambarkan.<br />
Jika mau jujur, sebenarnya, spiritualitas tak pernah hilang dari karya sastra manapun. Fiksi umum pun tak lepas dari pesan-pesan religiusitas. Begitu juga, novel-novel umum pun banyak berbicara soal islam. Maka fatal sekali jika novel yang secara pesifik tidak menampilkan keislaman verbal diklaim sebagai sastra nonislami. Hampir semua karya sastra mengusung moralisasi yang mengajarkan kemanusiaan.<br />
Di sisi lain, kelatahan membuat kelahiran fiksi islami kentara dengan kesan monoton. Baik cara penyampaian pesan maupun pengisahan. Pada dasarnya novel-novel islami yang ada sampai saat ini lebih bercorak menerjemahkan konflik seorang tokoh dengan interpretasi al-Qur’an atau al-Hadits. Setiap jengkal perjalanan hidup tokoh tak bisa lepas dari sandaran dalil-dalil naqli. Hingga di situ, pembaca akan lebih banyak menemui terjemahan atau penafisran al-Qur’an dan al-Hadits daripada narasi cerita yang dibangun.<br />
Kemudian ada semacam “kegagalan” cara menyampaikan pesan-pesan islam yang selalu saja hendak divisualisasikan secara verbal dalam novel-novel islami. Kegagalan itu adalah bentuk mengkomunikasikan nilai-nilai estetik sastra dalam bentuk dangkal yang tak ubahnya seperti ceramah. Kesan yang timbul adalah “menggurui”. Padahal, kesejatian pesan sebuah karya sastra adalah mengajak manusia untuk merenungi kembali segala nilai yang telah berlaku. Sedangkan “menggurui” jauh sekali dalam konteks kesadaran pembaca untuk berkontemplasi.<br />
Ambiguitas pun muncul jika kita mendebatkan soal nilai. Bahwa, seolah-olah baik dan buruk hanya dapat ditimbang dengan neraca yang bernama agama. Nurani fitriah yang melekat secara kodrati pada setiap orang tak terlalu dipakai. Daya kritis kemanusiaan terlalu dibekukan oleh doktrinasi cerita yang selalu “diislamkan”.<br />
Jejak Sastra Islam<br />
Benar apa yang ditulis Yasraf Amir Piliang dalam eseinya Sastra dan E(ste)tika Massa (2008), bahwa kalangan kritikus sastra sangat khawatir “industri budaya” yang lahir atas nama karya sastra berbasis pada logika industri. Karena karya sastra atau produk-produk kebudayaan lainnya tidak bisa diseragamkan sebagai barang industri.<br />
Lantas, apakah konsep sastra islami benar-benar pas disematkan untuk karya-karya macam di atas?<br />
Selama ini yang terjadi justru terma sastra islami mengikuti logika industri, bukan logika kebudayaan itu sendiri. Kelatahan fiksi islami adalah fakta yang tidak bisa ditampik yang nyata-nyata membuat banyak penulis hadir di dalam ruang itu hanya karena mengikuti arus pasar semata.<br />
Sebenarnya sastra bercorak islam sudah membumi sejak era kelahiran sastra melayu sebagai awal perkembangan kesu-sasteraan Indonesia. Dalam hal ini bisa dirujuk karya-karya Abdul Kadir Munsyi, Hamzah Fanshuri, atau Amir Hamzah.<br />
Era setelah itu, Kuntowijoyo memproklamasikan sastra profetik. Pada prinsipnya sastra profetik tidak lain adalah tafsir lain yang merujuk term sastra islam. Karena carapandang yang dipakai dalam pembahasaan pesan, sastra profetik menggunakan logika agama.<br />
Menurut Hamdy Salad dalam eseinya Narasi Sastra Religius (2008), ada tiga unsur yang tak terpisahkan dari etik profetik. Yaitu amar ma’ruf (humanisasi), nahyi munkar (li-berasi), dan iman billah (transendensi). Amar ma’ruf atau humanisasi memuat pesan untuk memanusiakan manusia sesuai peran budaya yang dijalankan. Nahyi munkar atau liberasi adalah pesan pembebasan manusia dari penindasan sistem budaya yang sedang berlangsung di masyarakat. Adapun iman billah meliputi perlawanan kreatif yang bersifat religius dan spiritual terhadap ideologi-ideologi budaya bersifat sekuler.<br />
Selain sastra profetik, sastra sufistik juga memperkaya definisi tentang satsra islam. Esensi sastra sufistik agak berbeda dengan sastra profetik. Tak sekadar memusatkan penalaran pada humanisasi, liberasi, dan transendensi. Melainkan meletakkan logika sastra pada unsur estetik yang bersifat transenden. Transendensi, dalam ukuran sastra sufistik adalah proses identifikasi ekspresi spiritual (ruhaniyah) manusia. Ada dua konteks transendensi yang terkandung dalam sastra sufistik: teologis (hablumminallah) dan kultural (hablumminnas).<br />
Dengan demikian, sastra islami yang berkembang saat ini perlu dikontekstualisasikan dengan term awal sastra islam yang telah lebih dulu menjadi induk semang. Maka sudah selayaknya penggerak sastra islami—industri dan penulis—termasuk pembaca lebih menimbang otentisitas karsa yang berlandaskan nilai-nilai islam, bukan sekadar tampilannya—yang akhirnya cenderung picisan. Karena bisa jadi sastra islami yang marak saat ini adalah sastra yang (hanya) menyerupai sastra islam, bukan sastra islam itu sendiri. <br />
&#8211;Musyafak,<br />
Warga Kampung Sastra Soeket Teki Semarang.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suketteki.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suketteki.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suketteki.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suketteki.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suketteki.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suketteki.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suketteki.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suketteki.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suketteki.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suketteki.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suketteki.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suketteki.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suketteki.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suketteki.wordpress.com/124/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suketteki.wordpress.com&amp;blog=471252&amp;post=124&amp;subd=suketteki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suketteki.wordpress.com/2009/04/30/logika-industri-sastra-islami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5c5fbba6057f7d0c248e5e6d3c729dde?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suketeki</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
